Hijau yang Menyatukan: Muhammadiyah dan NU Gubeng Rajut Harmoni dalam Halalbihalal 1447 H

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Masjid Jenderal Sudirman, Jalan Dharmawangsa, menjadi saksi bisu terciptanya atmosfer kesejukan pada Ahad pagi (5/4/2026). Ratusan jamaah berkumpul dalam acara Silaturrahmi dan Halalbihalal Keluarga Besar Muhammadiyah Cabang Gubeng, yang tahun ini membawa pesan kuat tentang persatuan lintas organisasi keislaman.

​Acara yang dimulai pukul 06.00 WIB ini tidak hanya dihadiri oleh warga Muhammadiyah, tetapi juga jajaran Forkopimka Gubeng serta tokoh-tokoh dari Nahdlatul Ulama (NU), menciptakan pemandangan ukhuwah yang indah pasca-Idulfitri 1447 H.

​Satu Akar, Satu Tujuan

​Kehadiran Ketua MWC NU Kecamatan Gubeng, KH. Drs. Muslimin, menjadi sorotan utama. Dalam sambutannya yang hangat dan diselingi humor khas pesantren, beliau memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini sebagai sarana merawat harmoni umat.

​Kiai Muslimin mengingatkan jamaah bahwa secara historis, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari berangkat dari jalur keilmuan yang sama. Oleh karena itu, perbedaan teknis peribadatan seharusnya tidak lagi menjadi sekat pemisah.

​“Dulu kita sempat memperdebatkan hal-hal kecil seperti qunut atau tidak. Sekarang, yang lebih penting adalah bagaimana kita sama-sama menjaga umat tetap dekat dengan masjid. Perbedaan ini justru membuat kita saling melengkapi,” ujarnya.

​Ia menambahkan bahwa kekuatan Muhammadiyah di sektor pendidikan formal dan keunggulan NU di bidang kultural serta pesantren adalah aset besar jika berjalan beriringan untuk dakwah Islam di Indonesia.

​Memperteguh Kesalehan Sosial

​Melengkapi pesan persatuan tersebut, Kyai Drs. Rik Suhadi, S.Th.I. hadir menyampaikan kajian bertema “Memperteguh Ukhuwah dan Silaturrahmi Menuju Kesalehan Pribadi dan Sosial.”

​Dalam paparannya, Kyai Rik mengajak jamaah menjadikan momentum Ramadan yang baru saja lewat sebagai fondasi untuk memperbaiki kualitas diri. Beliau menekankan bahwa syukur harus terwujud dalam tiga dimensi: lisan, hati, dan perbuatan nyata di tengah masyarakat.

​Menutup Luka, Membuka Jalinan Baru

​Kegiatan ini ditutup dengan sesi ramah tamah dan doa bersama. Suasana saling jabat tangan antara warga Muhammadiyah dan NU di penghujung acara menjadi bukti nyata bahwa di Kecamatan Gubeng, perbedaan organisasi bukanlah penghalang, melainkan jembatan menuju kebaikan bersama (fastabiqul khairat).

​Melalui momentum ini, Muhammadiyah dan NU Gubeng sepakat untuk terus bersinergi menjaga umat, membuktikan bahwa Islam adalah agama yang benar-benar membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

​(Mochammad Farid Syahrizal)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article