Surabaya, wartapoint – Komitmen SMA Muhammadiyah 10 Surabaya (SMAMX) dalam mengawal bakat siswanya sejak tahun 2014 terus membuahkan hasil manis. Tak hanya mereka yang masih duduk di bangku sekolah, para alumni SMAMX pun kian bersinar di kancah internasional. Kali ini, kabar membanggakan datang dari Muhammad Jihan, alumni SMAMX yang sukses mewakili delegasi Indonesia dalam ajang bergengsi ACLA International Landscape Architecture Competition di Beijing, Tiongkok.
Inovasi Pertanian untuk Masa Depan
Membawa bendera almamaternya saat ini, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Jihan memukau dewan juri dengan presentasi mengenai sistem pembangunan pertanian baru yang modern dan solutif. Gagasan ini bukan sekadar teori, melainkan hasil riset mendalam terhadap pola kerja petani di Tiongkok.
”Sistem pertanian yang saya gagas ini merupakan hasil studi kasus berdasarkan penelitian yang kami lakukan langsung pada petani-petani di Tiongkok. Hasil temuan tersebut kami desain ulang menjadi sebuah model yang lebih efektif,” ujar Jihan.
Inovasi yang ditawarkan Jihan berfokus pada penyelesaian masalah riil di lapangan dengan menyatukan ilmu pengetahuan mutakhir dan modifikasi teknologi tepat guna. Ia berharap sistem ini nantinya dapat diadaptasi di tanah air.
”Harapan saya, gagasan ini bisa diusulkan bagi sistem pertanian Indonesia ke depan. Mengingat Tiongkok dan Indonesia sama-sama merupakan negara agraris terbesar di dunia,” tambahnya optimis.
Buah Kurikulum Keberbakatan SMAMX
Keberhasilan Jihan di bidang arsitektur lanskap dan pertanian ini membuktikan bahwa potensi siswa SMAMX sangatlah luas. Saat masih bersekolah, Jihan justru lebih dikenal sebagai atlet yang menonjol di bidang olahraga, dengan torehan prestasi dari tingkat provinsi hingga nasional. Meski begitu, ia tetap mampu menyeimbangkan kemampuan akademiknya dengan sangat baik.
Pencapaian gemilang ini tidak lepas dari peran Kurikulum Keberbakatan yang diterapkan oleh SMAMX. Sekolah ini secara konsisten memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka tanpa paksaan, sehingga siswa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan adaptif di berbagai bidang.
Prestasi Jihan menjadi bukti nyata bahwa pendidikan yang memanusiakan potensi siswa mampu mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara lokal, tetapi juga mampu berbicara banyak di level dunia. (Suardi)





