Bogor, wartapoint – Di saat banyak orang masih menikmati masa-masa indah sebagai pengantin baru, Jihan Nurila, S.Pd., justru mengukir kisah berbeda. Guru muda dari SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya ini sukses mengharumkan nama sekolah di kancah nasional dengan menyabet gelar Juara II pada ajang Olimpiade Guru Matematika (OGM) ke-11.
Perjuangan di Balik Meja Kompetisi
Puncak kompetisi yang berlangsung pada Ahad (26/4/2026) di Bogor ini bukanlah perkara mudah. Jihan harus berhadapan dengan 250 finalis terbaik dari seluruh penjuru Indonesia. Dalam durasi 90 menit yang mendebarkan, ia diuji melalui deretan soal isian singkat hingga uraian berbobot tinggi yang menguras logika dan ketahanan mental.
“Alhamdulillah, saya merasa senang dan bangga atas capaian ini. Mengingat ini adalah kesempatan pertama, bisa sampai di kursi finalis saja sudah sangat membanggakan bagi saya. Begitu hasil akhir diumumkan, rasanya semakin tidak percaya,” tutur Jihan.
Dedikasi di Tengah Peran Baru
Kemenangan ini terasa kian spesial mengingat status Jihan yang baru saja menempuh hidup baru sebagai seorang istri. Di balik ketenangannya saat mengerjakan soal, tersimpan perjuangan luar biasa dalam membagi waktu antara tanggung jawab rumah tangga dan persiapan kompetisi yang intens.
Kisah Jihan menjadi bukti nyata bahwa status “manten baru” bukanlah penghalang untuk tetap produktif dan berprestasi. Ketelitian dan ketangguhan yang ia tunjukkan di panggung nasional mencerminkan dedikasi tinggi seorang guru profesional.
Inspirasi bagi Keluarga Besar SD Musix
Keberhasilan Jihan disambut hangat oleh keluarga besar SD Musix Surabaya. Kepala Sekolah SD Musix, Munahar, S.H.I., M.Pd., memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas pencapaian ini. Menurutnya, Jihan adalah representasi guru sebagai pembelajar sejati yang tidak pernah berhenti bertumbuh meski di tengah fase kehidupan yang baru.
Membidik Emas di Masa Depan
Meski pulang dengan medali perak, ambisi Jihan tidak lantas padam. Baginya, prestasi ini hanyalah awal dari perjalanan panjangnya sebagai pendidik.
”Ke depan, saya ingin mempersiapkan segalanya dengan lebih matang. Apa pun hasilnya itu bonus, tapi jujur saja, Gold Medal tetap membuat saya penasaran,” pungkasnya.
Kisah Jihan Nurila menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa dedikasi tidak mengenal waktu, dan setiap peluang untuk berprestasi akan selalu terbuka bagi mereka yang berani berjuang hingga ke panggung tertinggi. (Basirun)





