Oleh: Fittria Leliana (Mahasiswi Magister Pedagogi UMM)
Pendidikan anak usia dini (PAUD) sering disebut sebagai fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Hal ini bukan sekadar jargon, tetapi sebuah kenyataan yang telah diakui secara luas. Artikel tentang implementasi PAUD Holistik Integratif (HI) di PAUD Buah Hati memberikan gambaran bahwa layanan pendidikan anak usia dini di Indonesia sebenarnya telah berjalan ke arah yang cukup menjanjikan. Namun, di balik capaian “sangat baik” yang ditampilkan, muncul pertanyaan penting: apakah keberhasilan ini sudah benar-benar menyentuh akar kebutuhan anak?
Konsep PAUD Holistik Integratif sendiri menekankan pemenuhan lima layanan utama, yaitu kesehatan dan gizi, perawatan, pendidikan, perlindungan, serta kesejahteraan anak. Pendekatan ini sangat relevan, karena perkembangan anak usia dini tidak bisa dipisahkan menjadi bagian-bagian yang berdiri sendiri. Anak membutuhkan stimulasi yang menyeluruh, bukan hanya kemampuan akademik semata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua layanan berada pada kategori “sangat baik”, kecuali layanan perlindungan yang masih berada pada kategori “cukup”. Sekilas, ini tampak sebagai keberhasilan besar. Namun jika dicermati lebih dalam, justru di sinilah letak persoalannya. Layanan perlindungan—yang menyangkut aspek paling mendasar dari hak anak—justru belum optimal.
Ini menunjukkan bahwa pendekatan teknis dan administratif dalam PAUD HI belum sepenuhnya diimbangi dengan perubahan pola pikir masyarakat, khususnya orang tua. Program parenting yang dilakukan sebanyak tujuh kali memang menjadi langkah positif, tetapi fakta bahwa masih diperlukan penyuluhan intensif menunjukkan bahwa pemahaman orang tua tentang perlindungan anak belum merata.
Lebih jauh lagi, terdapat temuan bahwa masih ada anak yang belum memiliki akta kelahiran. Ini bukan sekadar persoalan administratif, tetapi menyangkut identitas dan hak dasar anak sebagai warga negara. Dalam konteks ini, layanan kesejahteraan yang dinilai “sangat baik” menjadi terasa paradoksal. Bagaimana mungkin sebuah layanan dikategorikan sangat baik, sementara masih ada anak yang belum memiliki identitas hukum?
Di sinilah pentingnya melihat hasil penelitian tidak hanya dari angka, tetapi juga dari realitas di lapangan. Penilaian “sangat baik” seringkali menutupi masalah-masalah mendasar yang justru membutuhkan perhatian lebih serius.
Keberhasilan implementasi PAUD HI juga tidak bisa dilepaskan dari peran berbagai pihak, mulai dari guru, kepala sekolah, orang tua, hingga pemerintah. Namun, kolaborasi ini masih perlu diperkuat, terutama dalam hal kesinambungan program. Banyak program berjalan baik saat ada intervensi dari pihak luar, seperti kegiatan pengabdian masyarakat, tetapi belum tentu berkelanjutan setelah program tersebut selesai.
Dalam konteks ini, PAUD HI seharusnya tidak hanya dipahami sebagai program, tetapi sebagai budaya. Artinya, nilai-nilai pengasuhan, perlindungan, dan pemenuhan hak anak harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kegiatan formal yang dilakukan sesekali.
Selain itu, pendekatan holistik integratif juga perlu lebih adaptif terhadap kondisi sosial masyarakat. Tidak semua orang tua memiliki akses, pemahaman, atau kesiapan yang sama dalam mendukung tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, strategi implementasi tidak bisa bersifat seragam, tetapi harus kontekstual dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
Pada akhirnya, keberhasilan PAUD HI tidak hanya diukur dari seberapa baik program dilaksanakan, tetapi dari seberapa besar dampaknya terhadap kehidupan anak secara nyata. Apakah anak merasa aman? Apakah mereka mendapatkan haknya? Apakah orang tua benar-benar memahami perannya?
PAUD Holistik Integratif adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Namun, pekerjaan rumahnya masih panjang. Kita tidak boleh berhenti pada label “sangat baik”, tetapi harus terus menggali, memperbaiki, dan memastikan bahwa setiap anak benar-benar mendapatkan layanan terbaik yang mereka butuhkan.
Karena pada akhirnya, kualitas masa depan bangsa ditentukan dari bagaimana kita memperlakukan anak-anak hari ini.





