Surabaya, wartapoint – MI Muhammadiyah 25 Surabaya menggelar Workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Senin (22/6/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB ini diikuti oleh seluruh jajaran guru guna meningkatkan kompetensi pendidik dalam menyusun perangkat pembelajaran yang selaras dengan kebijakan pendidikan nasional dan nilai-nilai keislaman Muhammadiyah.
Dalam workshop ini, pihak madrasah menghadirkan Dr. Bagus Mustakim, S.Ag., M.S.I., Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, sebagai narasumber utama. Kehadirannya memberikan penguatan konsep KBC sekaligus pendampingan langsung dalam penyusunan perangkat pembelajaran untuk tahun ajaran mendatang.
Peningkatan Kualitas SDM Menuju Tahun Ajaran Baru
Kepala MI Muhammadiyah 25 Surabaya, Ferry Rismawan, M.Pd.I., menegaskan bahwa workshop ini merupakan langkah strategis untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan madrasah.
”Workshop peningkatan kualitas SDM melalui Kurikulum Berbasis Cinta ini hendaknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semoga kegiatan ini menghasilkan modul dan perangkat pembelajaran yang berkualitas serta memberikan manfaat dalam menunjang kinerja guru pada Tahun Ajaran 2026/2027,” ujarnya.
Menurut Ferry, adaptasi dan peningkatan kompetensi guru adalah sebuah keniscayaan. Hal ini penting agar proses pembelajaran di madrasah tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa menanggalkan fondasi karakter dan nilai-nilai keislaman.
Menempatkan Siswa sebagai Subjek Utama
Dalam paparannya, Dr. Bagus Mustakim menjelaskan bahwa esensi dari Kurikulum Berbasis Cinta adalah menempatkan peserta didik sebagai subjek utama, bukan objek. Pendekatan pembelajaran harus didasarkan pada penghormatan terhadap potensi, keunikan, serta ritme perkembangan masing-masing anak.
”Tugas kita bukan mencetak murid yang sempurna, tetapi menemani mereka tumbuh dengan percaya diri dan semangat belajar yang tak mudah padam,” tutur Bagus.
Ia menjabarkan bahwa implementasi KBC diwujudkan lewat penguatan Panca Cinta, yang meliputi:
- Cinta kepada Allah Swt.
- Cinta kepada Rasulullah saw.
- Cinta kepada orang tua dan guru
- Cinta kepada sesama manusia
- Cinta kepada lingkungan dan bangsa
Integrasi kelima pilar kebaikan ini diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga berkarakter kuat dan berakhlak mulia.
Pendampingan RPP dan Semangat Belajar Guru
Selain mematangkan konsep teoretis, narasumber mendampingi para peserta secara praktis dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Penyusunan ini disesuaikan dengan regulasi kementerian terbaru, kurikulum yang berlaku, serta karakteristik khas madrasah Muhammadiyah.
Bagus juga mengingatkan para guru untuk menjaga konsistensi budaya belajar di tengah dinamika dunia pendidikan yang bergerak cepat.
”Teruslah belajar, belajar, dan belajar karena perubahan akan terus terjadi. Guru yang terus belajar akan mampu memberikan layanan pendidikan yang lebih baik kepada peserta didik,” pesannya.
Senada dengan hal itu, Wakil Kepala Madrasah, Fuadah, S.Pd., menyampaikan bahwa KBC menjadi jawaban atas kebutuhan model pembelajaran yang humanis. Guru tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi (transmitter of knowledge), melainkan sebagai mitra tumbuh kembang anak.
”Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, guru diharapkan mampu menghadirkan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan sehingga peserta didik dapat berkembang secara optimal,” kata Fuadah.
Antusiasme Guru dan Kesiapan Madrasah
Suasana workshop tampak hidup dengan antusiasme yang tinggi dari para ustadz dan ustadzah. Mereka memanfaatkan momentum ini untuk merampungkan perangkat pembelajaran yang akan langsung digunakan pada tahun ajaran baru.
Ustadzah Arum, salah satu peserta workshop, mengaku mendapatkan manfaat konkret dari pelatihan intensif ini.
”Alhamdulillah, workshop ini sangat membantu. Kami tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga langsung menyusun rencana pembelajaran hingga selesai untuk seluruh mata pelajaran. Hasilnya dapat menjadi bekal dalam mempersiapkan pembelajaran Tahun Ajaran 2026/2027,” akunya.
Melalui agenda ini, MI Muhammadiyah 25 Surabaya optimistis dapat menyongsong tahun ajaran baru dengan layanan pendidikan yang lebih unggul, berkarakter, dan berkemajuan. Langkah ini sekaligus menjadi bukti komitmen madrasah dalam mendukung transformasi pendidikan nasional yang seimbang antara capaian kognitif dan pembentukan akhlak mulia siswa. (Siti Islaha)





