
Jambi, wartapoint – Memasuki ancaman puncak musim kemarau pada September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah taktis difokuskan pada penguatan satgas darat, pemadaman water bombing, pendinginan area gambut, hingga pembuatan sekat bakar.
Data BNPB mencatat akumulasi luas lahan terbakar di Provinsi Jambi hingga Kamis (3/9/2026) telah menyentuh angka 1.879,31 hektare. Pada hari yang sama, terdeteksi estimasi penambahan area terbakar seluas 47,5 hektare dengan 20 titik api (fire spot) serta pemantauan 182 titik panas (hot spot).
Penebalan Personel dan Pembuatan Sekat Bakar
Guna menekan laju sebaran api, tim gabungan mengombinasikan strategi darat dan udara. Dari 47,5 hektare area terbakar pada Kamis lalu, sebanyak 37 hektare berhasil dipadamkan—31 hektare diselesaikan oleh satgas darat dan 6 hektare melalui water bombing. Salah satu keberhasilan penyekatan berada di Desa Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, di mana Pos 27 berhasil memadamkan 3 hektare lahan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini berada di struktur tanah gambut yang berpotensi menyimpan bara api di bawah permukaan. Untuk itu, kekuatan tim darat yang semula berjumlah 5.984 personel kini diperkuat dengan penambahan 20 personel baru dari Basarnas, Brimob, dan Batalyon Infanteri 142.
”Penambahan personel diperlukan untuk memperkuat proses pendinginan pada area yang sudah dipadamkan. Kami juga memanfaatkan alat berat ekskavator dari BNPB untuk membuat sekat bakar dan kanal air, meski ada beberapa titik gambut ekstrem yang belum bisa ditembus alat berat,” ujar Bachyuni pada Jumat (4/9/2026).
Tantangan Cuaca dan Apresiasi untuk Satgas Lapangan
Di sisi lain, upaya penyemaian awan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah menyebarkan 8.000 kg NaCl periode 26 Agustus–2 September mulai menghadapi kendala. Berdasarkan analisis BMKG, minimnya potensi pertumbuhan awan hingga 10 September 2026 membuat satgas harus bertumpu penuh pada pemantauan cuaca ketat dan optimalisasi patroli darat.
Melihat kerasnya perjuangan petugas di lapangan, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memberikan perhatian khusus melalui penyaluran bantuan uang semangat bagi seluruh unsur satgas gabungan—mulai dari TNI, Polri, BPBD, Damkar, hingga relawan masyarakat.
Dukungan tersebut disambut hangat oleh para petugas di garis depan. Ketua Tim Pos 27 BPBD Provinsi Jambi, Ahmadi (55), mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian dari pemerintah pusat dan daerah.
”Uang semangat ini menjadi tambahan motivasi bagi kami yang bertugas di lapangan. Meski demikian, ada atau tidak adanya bantuan, kami bersama tim tetap menjalankan tugas pemadaman dan pendinginan ini dengan penuh keikhlasan demi menjaga Jambi dari bencana karhutla,” tutur Ahmadi. (yupan)
#jambi #bencananasional #beritanasional #indonesia #sumatera





