
Surabaya, wartapoint — Suasana penuh khidmat dan antusiasme mewarnai Hall INACER SD Muhammadiyah 7 Surabaya pada Rabu (9/9/2026). Sekolah berjuluk Sekolah Inovatif tersebut menghadirkan dua veteran perang kemerdekaan, Bapak Mulyadi dan Bapak Abbas, untuk mengajar secara langsung di hadapan seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.
Sesi pembelajaran diawali oleh Bapak Mulyadi yang memaparkan rekam jejak sejarah perjuangan bangsa. Beliau menceritakan panjangnya masa penjajahan bangsa Eropa di Indonesia, seperti Belanda, Inggris, dan Portugis. Beberapa contoh wilayah seperti Celebes (Sulawesi) yang sempat diduduki Portugis serta Borneo (Kalimantan) oleh Inggris menjadi gambaran dinamika perjuangan saat itu.
Bapak Mulyadi menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari bangsa asing, melainkan hasil perjuangan merebut kekuasaan saat Jepang takluk dari Sekutu. Kemerdekaan tersebut dicapai lewat proses panjang yang menggabungkan strategi militer dan jalur diplomasi.
”Maju tidaknya sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas individu masyarakatnya. Anak-anak merupakan pilar utama yang harus berkualitas jika ingin membawa Indonesia maju di masa depan,” tegasnya.
Pada sesi berikutnya, Bapak Abbas menyoroti tantangan zaman yang kini dihadapi bangsa Indonesia. Menurutnya, ancaman saat ini tidak lagi sebatas agresi militer, melainkan mencakup ancaman ideologi hingga dinamika kebijakan publik.
Bapak Abbas memungkas materinya dengan memberikan pesan mendalam kepada seluruh siswa agar senantiasa belajar dengan giat demi membawa perubahan positif bagi Indonesia.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif. Para siswa tampil kritis dan antusias mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari strategi mempertahankan NKRI hingga sejarah lokal Kota Surabaya.
Kesan positif pun diungkapkan oleh salah satu peserta, Andhara Azalea Pramesti, siswi kelas 4 Ibnu Haytam. “Saya senang sekali bisa kembali belajar sejarah Indonesia langsung dari dua veteran yang berkunjung ke sekolah kami,” tuturnya penuh gembira. (Habib Amrullah)





