Mengenang Mas Mirdasy: Sosok Rendah Hati yang Menjadi Jembatan Intelektual Pemuda Muhammadiyah

Must read

- Advertisement -

Jakarta, wartapoint — Kepergian tokoh senior Muhammadiyah, Mas Mirdasy, meninggalkan duka mendalam sekaligus kenangan akan nilai-nilai keteladanan bagi para penerusnya. Mantan Ketua Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM) PW Pemuda Muhammadiyah Jatim periode 1996–1998, Suyoto, mengenang almarhum sebagai sosok pemimpin yang memiliki “tangan panjang”—bukan dalam arti negatif, melainkan kemampuannya menjangkau dan merangkul berbagai lapisan talenta untuk memajukan organisasi.

​Misi “Perburuan Talenta” dan Ortodoksi Gerakan

​Dalam catatannya yang dirilis pada Senin (6/4/2026), Suyoto menceritakan bagaimana Mas Mirdasy menjadi sosok kunci di balik penguatan ideologi Pemuda Muhammadiyah Jatim menjelang era Reformasi 1996. Saat itu, muncul kebutuhan mendesak untuk menghadirkan semangat “ortodoksi”—sebuah upaya membawa nilai Islam ke wilayah praktis sosial-politik.

​Mas Mirdasy memahami bahwa Pemuda Muhammadiyah membutuhkan wajah baru: aktivis yang tidak hanya pandai berorasi di lapangan, tetapi juga fasih membaca teks keislaman (kitab) dan mampu mengontekstualisasikannya dengan dinamika sosial.

​Merangkul Kaum Intelektual

​Demi mewujudkan misi tersebut, Mas Mirdasy melakukan “operasi perburuan talenta” ke lingkungan akademisi, salah satunya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

​”Mas Mirdasy dan kawan-kawan dengan rendah hati rela ‘ngalahi’ datang ke Malang untuk berdiskusi dengan kami para dosen. Beliau memberikan jalan seluas-luasnya bagi kaum intelektual untuk berkontribusi,” kenang Suyoto.

​Langkah ini berhasil membawa deretan nama akademisi besar seperti Syamsul Arifin, Ahmad Juanda, hingga Nazaruddin Malik untuk aktif memperkuat draf usulan ideologis dari Jawa Timur ke tingkat nasional.

​Pemimpin yang Tahu Posisi

​Salah satu sifat yang paling berkesan bagi para sahabatnya adalah kerendahan hati Mas Mirdasy yang luar biasa. Meski merupakan putra dari Ketua PWM Jatim saat itu, ia tidak pernah menggunakan hak istimewa tersebut untuk ambisi pribadi.

​Suyoto mencatat, pada Muktamar PP Pemuda Muhammadiyah di Riau, Mas Mirdasy justru mendorong orang lain yang dianggap mumpuni secara intelektual untuk maju ke tingkat pusat, alih-alih mengajukan dirinya sendiri.

“Beliau seolah mengamalkan pesan dalam kitab Ta’limul Muta’allim; menjadi pendengar yang baik sekaligus pendukung setia bagi tumbuhnya gagasan,” tambah Suyoto.

​Hadiah Terbaik bagi Orang Beriman

​Kepulangan Mas Mirdasy dipandang sebagai kehilangan besar bagi dunia pergerakan Islam di Jawa Timur. Namun, bagi para sahabat, dedikasi dan cara beliau menghargai ilmu akan selalu menjadi inspirasi yang hidup.

​”Selamat jalan, Mas Mirdasy. Saya yakin kematianmu adalah hadiah terbaik dari Allah SWT,” pungkas Suyoto mengutip hadis Nabi, “Al-mautu hadiyyatun lil-mu’minin” (Kematian adalah hadiah bagi orang yang beriman).

​Warisan semangat Mas Mirdasy yang rendah hati, tahu posisi, dan selalu menggairahkan pergerakan akan tetap menjadi catatan emas dalam sejarah Pemuda Muhammadiyah.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article