Surabaya, wartapoint – Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April sering kali terjebak pada simbolisme busana daerah. Namun, bagi Didik Hermawan, M.Pd, Gr, Pembina IPM SMP Muhammadiyah 15 Boarding School Surabaya, momentum ini seharusnya menjadi refleksi mendalam untuk merajut kembali semangat emansipasi melalui konsep Qira’ah Mubadalah.
Dalam esainya yang bertajuk “Kartini dan Spirit Mubadalah: Merajut Kesalingan dalam Relasi Gender”, Didik menekankan bahwa gagasan Kartini mengenai martabat perempuan menemukan relevansi yang kuat dengan prinsip kesalingan (mubadalah) yang diusung oleh ulama progresif KH. Faqihuddin Abdul Kodir.
Bukan Persaingan, Melainkan Kemitraan Sejajar
Didik menjelaskan bahwa inti dari Mubadalah adalah memandang laki-laki dan perempuan sebagai subjek penuh kehidupan. Keduanya memegang mandat yang sama dari Tuhan untuk menciptakan kemaslahatan di muka bumi.
“Mubadalah menegaskan bahwa tidak boleh ada satu pihak yang merasa lebih superior atau mendominasi pihak lainnya. Relasi ini harus berbasis pada prinsip kesalingan dan kemitraan sejajar,” tulisnya.
Pemikiran ini memberikan fondasi teologis bagi kegelisahan Kartini di masa lalu. Jika selama ini teks keagamaan sering ditafsirkan secara sepihak, perspektif Mubadalah menawarkan cara pandang resiprokal. Sebagai contoh, jika istri berkewajiban membahagiakan suami, maka secara otomatis suami pun memiliki kewajiban serupa untuk membahagiakan istrinya.
Melampaui Dikotomi Domestik dan Publik
Lebih lanjut, Didik menyoroti impian Kartini tentang perempuan berpendidikan tinggi. Dalam bingkai kesalingan, pendidikan bukan hanya untuk aktualisasi diri perempuan, tetapi agar mereka mampu menjadi pendidik pertama bagi anak-anak dan kontributor bagi bangsa.
Hal ini menuntut peran aktif laki-laki untuk keluar dari kekakuan peran domestik. Laki-laki didorong menjadi mitra yang suportif, bersedia berbagi peran dalam rumah tangga, dan memberi ruang bagi perempuan untuk berkembang.
Ajakan Kolaborasi untuk Kaum Laki-Laki
Menariknya, Didik menekankan bahwa agenda kesetaraan gender bukanlah upaya perempuan untuk menyaingi laki-laki. Sebaliknya, ini adalah gerakan bersama untuk menghapuskan kekerasan dan diskriminasi.
”Peringatan Hari Kartini menjadi ajakan bagi kaum laki-laki untuk terlibat aktif. Ketika laki-laki memandang perempuan dengan kacamata kesalingan, beban hidup yang selama ini dipikul sendirian akan terasa lebih ringan karena dikelola secara kolaboratif,” ungkapnya dalam tulisan tersebut.
Mewujudkan Peradaban yang Mulia
Secara sosiologis, integrasi semangat Kartini dan prinsip Mubadalah diyakini mampu menciptakan struktur keluarga dan masyarakat yang lebih sehat. Dengan meminimalisir dominasi satu pihak, potensi konflik dapat ditekan dan narasi patriarki yang merugikan bisa digantikan dengan kerjasama yang tulus.
Menutup tulisannya, Didik mengajak masyarakat untuk tidak sekadar merayakan Hari Kartini sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai komitmen untuk menghidupkan api keadilan di setiap lini kehidupan. Kemajuan bangsa, menurutnya, sangat bergantung pada sejauh mana laki-laki dan perempuan mampu berjalan beriringan sebagai kawan seiring menuju peradaban yang mulia.





