Bandung, wartapoint – Panji Tegar Wikantama (16), siswa kelas XI Sosial Humaniora SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, menjadi satu satunya peserta termuda dan wakil sekolah menengah yang tampil di 3rd International Conference on Digital Economics (INCODE) 2026. Dalam konferensi yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Bandung pada 28–30 April 2026 itu, Dio, sapaan akrabnya, menyapu bersih gelar Best Paper, Best Presenter, dan Runner-Up Poster melalui risetnya yang berjudul “Human Resource Misalignment in student-based organizations: A McKinsey 7S Approach”.
Dalam paparannya, Dio menggunakan kerangka kerja manajemen global McKinsey 7S untuk membedah dinamika sumber daya manusia di organisasi berbasis siswa. Kedalaman analisis dan kemampuan presentasinya di atas panggung internasional membuat para dewan juri memberikan apresiasi tertinggi pada karya tulis dan performanya.
Hasil penelitian Dio mengungkap tiga temuan utama. Pertama, misalignment SDM muncul dari celah antara keputusan pimpinan, kapasitas anggota, dan kebutuhan organisasi yang kemudian diperparah oleh minimnya komunikasi yang buruk, serta gaya kepemimpinan top-down.
“Saya menemukan bahwa misalignment ini terjadi karena rekrutmen yang tidak strategis, belum adanya pemetaan keterampilan, dan budaya yang enggan merombak penempatan peran. Ditambah kendala waktu dan komitmen dari anggota sendiri, prinsip right person in the right place jadi sulit dijalankan,” jelas Dio.
Lebih lanjut, ia memaparkan dampak yang ditimbulkan. “Ketidakselarasan ini ternyata efeknya berantai. Beban kerja jadi timpang, konflik internal meningkat, produktivitas menurun, dan yang paling mengkhawatirkan, re-generasi serta keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang ikut terancam. Bahkan citra organisasi di mata mitra eksternal bisa terdampak,” tambahnya.
Menanggapi capaian ini, Dio mengaku tidak menyangka bahwa langkah awalnya di dunia riset internasional bisa membuahkan hasil
“Sejujurnya saya sama sekali tidak menyangka bisa meraih penghargaan ini, apalagi saya satu-satunya siswa SMA di antara para dosen dan peneliti hebat. Saya sangat berterima kasih atas dukungan penuh dan pembinaan dari SMA Muhammadiyah 10 Surabaya pada penelitian ini,” ungkap Dio penuh syukur.
Sementara itu Kepala SMAM-X Surabaya, Salim Bahrisy memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas pencapaian ini. Menurutnya, keberhasilan Dio adalah validasi dari ekosistem pendidikan yang dibangun sekolah.
“Prestasi ini merupakan bukti nyata bahwa SMA Muhammadiyah 10 Surabaya terus melek terhadap budaya riset dan penelitian. Dio menunjukkan bahwa siswa SMA pun mampu bicara banyak di forum internasional jika diberi ruang untuk mengeksplorasi kemampuan intelektualnya,” ujar Salim Bahrisy.
Kehadiran Dio di INCODE 2026 menjadi pembeda di antara peserta yang didominasi oleh mahasiswa dan akademisi dari perguruan tinggi. Keberhasilan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi siswa-siswa lain di Indonesia untuk berani terjun ke dunia riset global sejak dini.
(Azmi Izuddin)





