Surakarta, wartapoint — Upaya mitigasi bencana berbasis komunitas sekaligus perwujudan kemanunggalan TNI-Polri dengan rakyat kembali ditunjukkan di tingkat akar rumput. Kompak memegang cangkul dan sapu lidi, jajaran Bintara Pembina Desa (Babinsa) Joyotakan Koramil 03/Serengan Kodim 0735/Surakarta bersama Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) bahu-membahu dengan warga menggelar kerja bakti massal, Minggu (24/5/2026).
Aksi gotong royong yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB tersebut difokuskan pada pembersihan selokan dan saluran air yang berada di kawasan RT 02 RW 03, Kelurahan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta. Langkah ini diambil guna mengantisipasi penyumbatan aliran air akibat sedimentasi lumpur dan tumpukan sampah domestik.
Babinsa Kelurahan Joyotakan, Serma Rumbawa, menjelaskan bahwa keterlibatan aparat kewilayahan dalam kegiatan murni swadaya masyarakat ini merupakan komitmen untuk menciptakan ruang hidup yang higienis dan kondusif bagi warga binaan.
”Kami bersama warga bergotong royong membersihkan saluran air serta sampah di lingkungan sekitar. Fokus utama hari ini adalah memastikan sistem drainase berfungsi optimal agar lingkungan pemukiman menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman,” ujar Rumbawa di sela-sela kegiatan.
Rumbawa menambahkan, di luar dimensi kebersihan fisik, esensi sejati dari kerja bakti ini adalah merawat simpul-simpul sosial dan mempererat tali silaturahmi yang telah terbangun baik antara TNI-Polri dengan masyarakat urban. Antusiasme masyarakat yang tinggi menjadi indikator bahwa kepedulian terhadap ruang publik masih terjaga secara komunal.
Menggugah Kesadaran Komunitas
Dalam kesempatan yang sama, aparat teritorial juga memanfaatkan ruang dialog terbuka ini untuk mengedukasi warga. Bhabinkamtibmas Aipda Fajar bersama Babinsa mengimbau masyarakat agar tidak sekadar mengandalkan momentum kerja bakti berkala, melainkan mulai menerapkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga kelestarian lingkungan sekitar dinilai sebagai investasi jangka panjang demi kesehatan keluarga. Revitalisasi budaya gotong royong dinilai krusial sebagai benteng pertahanan sosial sekaligus wujud nyata dari nilai kebersamaan.
Melalui normalisasi saluran air di wilayah RT 02 RW 03 Joyotakan ini, kawasan tersebut kini tampak lebih rapi dan representatif. Intervensi kebersihan sejak dini ini diharapkan mampu meminimalisasi risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan, seperti demam berdarah dengki (DBD), sekaligus menekan potensi genangan air atau banjir lokal saat intensitas hujan meningkat tinggi di wilayah Surakarta. (Agus)





