
Surakarta, wartapoint — Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) ’Aisyiyah Pimpinan Daerah ’Aisyiyah (PDA) Kota Surabaya menggelar kunjungan studi tiru ke Panti Penyantunan Usia Lanjut ’Aisyiyah (PPULA) Surakarta pada Ahad (13/9/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 46 peserta yang terdiri dari pengurus MKS PDA Kota Surabaya, unit amal usaha, serta perwakilan MKS Pimpinan Cabang ’Aisyiyah (PCA) se-Kota Surabaya.
Rombongan yang dipimpin langsung oleh Ketua MKS PDA Kota Surabaya, Zuhrotul Farida, S.Ag., disambut hangat oleh pengelola panti, Agus Setiawan.
Dalam sambutannya, Agus menjelaskan bahwa panti yang berdiri di atas tanah wakaf Ibu Sukatinah Karto Suwagnyo ini dirintis sejak tahun 1989 dan resmi beroperasi pada 1990. Saat ini, PPULA Surakarta memiliki kapasitas daya tampung hingga 32 lansia.
”Kami menerima lansia dari berbagai daerah untuk dirawat, dibimbing, dan didampingi agar dapat menjalani masa tua yang bermakna, bermartabat, serta menuju husnul khotimah,” ujar Agus.
Zuhrotul Farida menyampaikan bahwa tujuan utama dari kunjungan ini adalah untuk mempelajari tata kelola panti lansia secara profesional. Fokus pembelajaran meliputi manajemen SDM, perawatan lansia berstatus bedridden, penguatan program kerohanian, hingga kemandirian pembiayaan operasional panti. Hasil studi tiru ini diharapkan menjadi bekal penting dalam penguatan LKSA serta pengembangan layanan lansia di Surabaya.
Kunjungan Haru dan Aksi Kepedulian Spontan
Suasana haru menyelimuti acara saat Agus memaparkan bahwa selain kebutuhan pokok, salah satu kebutuhan vital bagi para eyang (sebutan untuk lansia di panti) adalah popok dewasa (pampers). Tergerak oleh pemaparan tersebut, para peserta dari ’Aisyiyah Surabaya melakukan penggalangan dana secara spontan di tempat. Di luar donasi resmi yang telah disiapkan, terkumpul bantuan tambahan sebesar Rp1.900.000 untuk membantu operasional panti.
Usai sesi paparan, para rombongan disapa oleh para eyang yang telah duduk rapi di depan kamar masing-masing. Rombongan juga menyempatkan diri menjenguk lansia yang sedang beristirahat karena kondisi kesehatan yang kurang fit. “Saya senang di sini karena banyak teman dan diperhatikan,” tutur salah satu eyang dengan terbata-bata.
Momen menyentuh hati kembali terjadi saat rombongan menghampiri seorang eyang yang menyapa ramah. Dengan raut wajah haru, ia menceritakan kisah hidupnya hingga bisa berada di panti. Ia mengaku diajak sanak saudaranya pergi tanpa mengetahui bahwa tujuan akhirnya adalah panti jompo, hanya dengan membawa dua helai daster lusuh tanpa membawa telepon genggam.
”Saya masih bertahan di sini karena kalau tidak di sini, saya sama siapa lagi?” tuturnya mengusap air mata, sembari memohon doa agar senantiasa diberikan kepasrahan terbaik oleh Allah SWT. Story tersebut tak ayal meneteskan air mata para rombongan yang mendengarkan.
Menutup rangkaian kunjungan, Zuhrotul Farida menegaskan pesan moral yang dipetik dari perjalanan studi tiru ini.
”Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua tentang betapa pentingnya peran keluarga. Kasih sayang dan rasa hormat kepada orang tua harus terus kita tanamkan kepada anak-anak kita, agar kelak mereka tetap menyayangi orang tuanya sebagaimana kita merawat mereka di masa kecil,” pungkas Farida. (yupan)
#aisyiyah #mksaisyiyah #beritanasional #surakarta #beritanasional #indonesia





