
Jakarta, wartapoint — Sikap menghormati ulama dan menaati pemimpin merupakan ajaran mendasar dalam Islam. Namun, penghormatan tersebut dapat bergeser menjadi tindakan yang merusak akidah dan tatanan sosial apabila berubah menjadi pengagungan berlebihan serta kultus individu.
Hal tersebut ditegaskan oleh akademisi sekaligus tokoh dakwah, Dr. Risman Muchtar, M.Si., dalam telaah kritisnya mengenai batas-batas ketaatan dan penghormatan kepada ulama serta pemimpin berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Menurut Dr. Risman, persoalan mendasar umat saat ini bukanlah pada keharusan menghormati tokoh, melainkan sejauh mana batas penghormatan itu dibenarkan oleh syariat.
”Al-Qur’an dan As-Sunnah memberikan pedoman yang sangat jelas: menghormati manusia tidak berarti mengultuskannya, menaati pemimpin tidak berarti membenarkan semua tindakannya, dan memuji seseorang tidak berarti menutup mata terhadap kesalahannya,” ujar Dr. Risman.
Ketaatan Bersyarat dan Larangan Mengultuskan Manusia
Dalam gagasannya, Dr. Risman menyoroti beberapa poin kunci yang menjadi pijakan moral dan hukum bagi umat Islam:
- Ketaatan Bukan Tanpa Batas Mengacu pada QS. An-Nisa’ [4]: 59 dan HR. Al-Bukhari & Muslim, ketaatan tertinggi hanya milik Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada ulil amri (pemegang kekuasaan) maupun instruksi ulama bersifat bersyarat, yaitu hanya dalam perkara yang makruf (baik dan sah secara syariat). Ketaatan tidak berlaku untuk perintah maksiat, ketidakadilan, atau penyelewengan amanah.
- Membedakan Meringankan Dosa dari Otoritas Wahyu Mengutip QS. At-Taubah [9]: 31, beliau mengingatkan agar umat tidak meniru kekhilafan masyarakat terdahulu yang menjadikan ulama mereka sebagai “tuhan selain Allah” dengan cara mematuhi penetapan hukum halal-haram secara buta tanpa dasar wahyu. Ulama adalah manusia berilmu yang tetap tidak maksum (terbebas dari dosa/keliruan).
- Larangan Sanjungan Berlebihan (Ithra’) Berdasarkan HR. Al-Bukhari (No. 3445), Nabi Muhammad SAW secara tegas melarang umatnya memberikan pujian melampaui batas sebagaimana kaum Nasrani memuji Nabi Isa AS. Jika terhadap Rasulullah saja sanjungan berlebihan dilarang, maka terlebih lagi terhadap pejabat, pimpinan organisasi, maupun tokoh masyarakat.
Dampak Buruk Kultus Individu
Lebih lanjut, Dr. Risman memaparkan sejumlah bahaya laten jika budaya pemujaan figur terus dibiarkan berkembang di tengah masyarakat:
- Melemahkan Kebenaran Ilmiah: Pendapat figur dianggap lebih penting daripada dalil mutlak, sehingga diskusi berubah menjadi pembelaan personal.
- Loyalitas Buta: Pengikut lebih sibuk membela kehormatan tokoh ketimbang mengoreksi kesalahan yang nyata.
- Merusak Budaya Musyawarah: Perbedaan pendapat yang sah diangap sebagai bentuk pembangkangan atau ketidaksetiaan.
- Penyalahgunaan Kekuasaan: Lemahnya mekanisme kontrol dan koreksi akibat pemimpin selalu dipuji secara tidak rasional.
Panduan Sikap Bagi Umat
Untuk memudahkan masyarakat mendudukkan perkara ini secara praktis, Dr. Risman membaginya ke dalam batasan sikap berikut:
| Kategori Sikap | Terpuji & Dibenarkan | Bertentangan & Tidak Dibenarkan |
|---|---|---|
| Terhadap Ulama | Menghormati karena ilmu & ketakwaan; mengkritik pendapat secara ilmiah & beradab. | Menganggap pendapat ulama pasti benar; menolak dalil shahih demi membela tokoh. |
| Terhadap Pemimpin | Menaati kebijakan yang sah dan makruf; mengakui keberhasilan berdasarkan fakta. | Menaati perintah maksiat; membela tindakan zalim atas dasar loyalitas buta. |
| Terhadap Kritik | Mengoreksi kesalahan berdasarkan bukti dan adab sebagai wujud nasihat agama. | Menghina, memfitnah, atau merendahkan martabat pribadi berkedok kritik |
Relevansi bagi Gerakan Dakwah dan Organisasi Islam
Dalam konteks organisasi keislaman, termasuk Muhammadiyah, Dr. Risman menekankan pentingnya menjaga prinsip kepemimpinan kolektif-kolegial. Pimpinan dihormati karena amanah yang diembannya, sementara setiap kebijakan tetap wajib dapat dipertanggungjawabkan melalui mekanisme musyawarah (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).
Membuka ruang kritik yang konstruktif dan penuh adab merupakan wujud nyata dari pelaksanaan prinsip Ad-Dinu An-Nashihah (agama adalah nasihat), bukan bentuk pembangkangan.
“Menghormati manusia adalah akhlak, mengikuti kebenaran adalah kewajiban, dan menolak kultus individu adalah bagian dari menjaga kemurnian tauhid serta tanggung jawab moral umat,” tutup Dr. Risman.





