Surabaya, wartapoint – Dunia pendidikan Indonesia saat ini dinilai tengah menghadapi tantangan serius yang disebut sebagai “Darurat Adab”. Fenomena merosotnya etika generasi muda, hilangnya figur keteladanan, hingga orientasi pendidikan yang salah arah menjadi alarm keras bagi lembaga pendidikan untuk segera melakukan penguatan karakter secara sistemik.
Ketua PCM Mulyorejo, Drs. Najib Sulhan, MA, menegaskan bahwa penguatan karakter bukan sekadar program formalitas atau pemahaman sesaat. Hal tersebut harus menjadi sebuah sistem yang dikawal dengan kesadaran penuh oleh seluruh elemen pendidikan.
Tiga Akar Masalah “Darurat Adab”
Dalam ulasannya, Najib Sulhan memetakan tiga poin utama yang menjadi penyebab carut-marutnya moralitas generasi saat ini:
1. Krisis Akhlak di Tengah Kecerdasan
Saat ini, fenomena anak yang cerdas secara akademik sangat melimpah, namun banyak yang kehilangan rasa malu dan kesantunan. Pelanggaran asusila, sikap melawan kepada orang tua, hingga tawuran menjadi bukti nyata.
“Jika kecerdasan tidak dikuatkan dengan adab, maka dikhawatirkan ilmu yang dimiliki tidak bermanfaat. Ilmu harus diimbangi dengan adab,” tegasnya.
2. Hilangnya Figur Panutan
Anak-anak kehilangan sosok yang bisa dicontoh. Orang tua yang terlalu sibuk bekerja dan guru yang terjebak dalam beban administratif membuat fungsi transfer of value (penanaman nilai) terabaikan dan hanya fokus pada transfer of knowledge (transfer ilmu).
Kondisi ini diperparah dengan maraknya kriminalisasi terhadap guru, yang membuat para pendidik memilih bermain aman daripada menjalankan fungsi mendidik yang idealis.
3. Konsep Pendidikan yang Salah Arah
Sistem pendidikan saat ini dinilai terlalu menekankan pada pemenuhan kebutuhan primer (sandang, pangan, papan). Dampaknya, lahir generasi yang menghalalkan segala cara demi materi, termasuk praktik suap-menyuap (risywah) dan budaya menjilat demi mengamankan jabatan.
Kembali ke Konsep Qur’ani
Sebagai solusi, Najib Sulhan mengajak lembaga pendidikan untuk meluruskan kembali arah pendidikan dengan merujuk pada konsep Al-Qur’an, sebagaimana teladan Luqman Hakim dalam mendidik anaknya.
Pendidikan tidak boleh lagi hanya mengejar nilai akademik, melainkan harus menjadikan adab sebagai fondasi utama. Setidaknya, ada empat dimensi adab yang harus diperkuat dalam kurikulum karakter:
- Adab kepada Allah (Robbaniyah): Menanamkan ketauhidan dan ketaatan.
- Adab kepada Sesama Manusia (Insaniyah): Membangun empati dan kesantunan.
- Adab terhadap Ilmu (Ilmiyah): Menghargai proses belajar dan kejujuran intelektual.
- Adab terhadap Lingkungan (Alamiyah): Menjaga kelestarian alam.
Pesan Moral: Jujur Meski Pahit
Mengutip hadits Nabi Muhammad SAW, Najib mengingatkan pentingnya menanamkan keberanian untuk berkata jujur meskipun itu pahit. Pendidikan harus melahirkan pemimpin yang bertaqwa, bukan sekadar pekerja yang mencari aman.
”Meskipun mungkin terasa terlambat, upaya memperbaiki arah pendidikan harus tetap dilakukan. Semua demi melahirkan generasi hebat yang memiliki keberkahan dalam hidupnya,” pungkasnya.





