Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Saturday, May 9, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Refleksi Semangat Kartini: Ratusan Pelajar Spemuga Surabaya “Napak Tilas” di Malang Lewat KTS Edukatif

Must read

Malang, wartapoint – Selasa, 21 April 2026, menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SMP Progresif “Spemuga” (SMP Muhammadiyah 3) Surabaya. Bertepatan dengan Peringatan Hari Kartini, ratusan pelajar sekolah tersebut menggelar Kegiatan Tengah Semester (KTS) bertajuk napak tilas perjuangan R.A. Kartini dengan menyusuri jejak keindahan alam dan religi di Malang Raya.

​Mengusung semangat Habis Gelap Terbitlah Terang, para siswa diajak memaknai nilai-nilai emansipasi melalui kunjungan ke empat destinasi ikonik: Sumber Maron, Masjid Tiban Turen, Museum Panci, dan Masjid Merah.

Literasi Bergerak di Atas Roda

​Perjalanan dimulai tepat pukul 06.00 WIB dari Surabaya. Namun, alih-alih sekadar duduk diam, suasana bus berubah menjadi panggung literasi melalui aksi “Estafet Pantun & Puisi Kartini”.

​“Spemuga ingin memperingati Kartini dengan cara yang progresif. Bukan sekadar seremonial, anak-anak langsung mempresentasikan karya orisinal mereka sepanjang perjalanan,” ungkap Maria Elen, Kepala SMP Progresif Spemuga.

Integrasi 11 Mata Pelajaran dalam Satu Perjalanan

​KTS kali ini dirancang dengan konsep Integrated Learning, di mana 11 mata pelajaran dilebur ke dalam aktivitas di tiap destinasi:

  • Sumber Maron (Gondanglegi): Menjadi laboratorium alam untuk mapel PJOK, IPA, dan Informatika. Sambil menikmati kesegaran river tubing, siswa menganalisis kejernihan air sebagai simbol pikiran Kartini, mengukur debit air, hingga memproduksi konten kreatif Reels bertema “Sumber Air = Sumber Ilmu”.
  • Masjid Tiban (Turen): Fokus pada rumpun Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab. Siswa membedah akulturasi budaya Timur Tengah dan Tiongkok pada arsitektur masjid. “Kami mengajak siswa berpikir kritis: jika Kartini hidup hari ini, beliau mungkin akan membangun ‘Masjid Tiban Ilmu’ bagi kaum perempuan,” tambah Maria Elen.
  • Museum Panci: Di sini, logika dan estetika bertemu. Siswa belajar Matematika dan Seni Budaya secara langsung dengan mengukur diameter berbagai ukuran panci serta menuangkannya dalam sketsa artistik.
  • Masjid Merah: Menjadi destinasi penutup yang tenang untuk refleksi spiritual sebelum rombongan bertolak kembali ke Surabaya.

Output Berbasis Portofolio P5

​Seluruh karya yang dihasilkan siswa—mulai dari surat terbuka untuk Kartini, vlog perjalanan, hingga foto jurnalistik—tidak hanya menjadi syarat nilai tengah semester, tetapi juga akan dikurasi sebagai portofolio P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila).

​“KTS tahun ini benar-benar paket lengkap: pelajaran, pembelajaran, sekaligus pengalaman hidup yang berharga,” pungkas Maria Elen saat rombongan bersiap kembali ke Surabaya pukul 19.30 WIB.

​Melalui kegiatan ini, SMP Progresif Spemuga membuktikan bahwa belajar tidak harus tersekat dinding kelas, dan semangat Kartini tetap relevan untuk dipelajari di mana saja, termasuk dari jernihnya sumber air hingga megahnya rumah ibadah. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article