Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Monday, June 1, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Tantang Krisis Identitas Generasi Alfa, Siswa SDM 26 Surabaya Deklarasikan Cita-Cita di Lawang

Must read

Malang, wartapoint – Di tengah sorotan publik mengenai tantangan krisis identitas dan pudarnya arah cita-cita pada generasi Alfa, langkah tak biasa diambil oleh SD Muhammadiyah 26 (M26) Surabaya. Sekolah tersebut memanfaatkan momentum pelepasan siswa dengan menggelar inisiasi mental dan karakter yang adaptif terhadap masa depan.

​Melalui kegiatan bertajuk “From Memories to a BRIGHT FUTURE 13th Generation” yang berlangsung di Bess Resort Lawang, Kabupaten Malang, Rabu (20/5/2026) hingga Kamis (21/5/2026), prosesi kelulusan angkatan ke-13 ini dikonsep menjadi panggung manifestasi masa depan.

​Agenda dua hari ini sengaja dirancang bukan sekadar sebagai rekreasi atau pelepasan penat pasca-ujian, melainkan sebagai laboratorium mental untuk memicu rasa percaya diri siswa dalam menyongsong jenjang pendidikan berikutnya.

​Deklarasi Profesi di Atas Catwalk

​Puncak acara yang paling menyita perhatian terjadi pada malam inagurasi. Ratusan siswa tampil di atas panggung dengan mengenakan ragam kostum yang merepresentasikan profesi impian mereka di masa depan.

​Secara bergantian, para siswa berjalan dengan percaya diri mengenakan atribut mulai dari arsitek, CEO korporasi, atlet profesional, perwira militer, pilot, dokter, hingga pendidik bangsa. Langkah ini menjadi simbolisasi bahwa mereka siap mengambil peran penting dalam pembangunan Indonesia beberapa tahun ke depan.

​Guru Pendamping sekaligus Seksi Acara, Zenny Karina Ningrum, mengungkapkan bahwa visualisasi profesi ini bertujuan untuk menanamkan komitmen sejak dini ke dalam personalitas siswa.

“Melihat anak-anak berani tampil membawa cita-cita mereka masing-masing adalah momen yang sangat membahagiakan. Semoga kegiatan ini menjadi kenangan indah sekaligus penyemangat bagi mereka untuk terus belajar dan percaya bahwa mimpi besar bisa diraih sejak sekarang,” ujar Zenny.

​Memutus Rantai Individualisme Digital

​Selain aspek seremonial dan teatrikal, para siswa juga diwajibkan mengikuti serangkaian aktivitas fisik dan taktis luar ruang (outbound), senam pagi, hingga olahraga renang.

​Pendekatan ini diambil sebagai upaya sekolah untuk memutus kecenderungan sifat individualistis yang kerap melekat pada anak-anak di era digital. Melalui simulasi permainan kelompok berbasis pemecahan masalah (problem solving), para siswa digembleng untuk mengasah tiga nilai krusial:

  • Keberanian dalam mengambil keputusan.
  • Kreativitas di tengah keterbatasan.
  • Kekompakan mutlak (teamwork) sebagai makhluk sosial.

​Melalui formula ini, pihak sekolah berupaya membuktikan bahwa masa purna-sekolah dasar dapat dirayakan melalui kegiatan edukatif yang produktif, alih-alih perayaan kelulusan yang bersifat konsumtif.

​Kamis siang, rangkaian acara resmi ditutup dan seluruh peserta bertolak kembali ke Surabaya. Melalui gemblengan intensif di Lawang, para lulusan angkatan ke-13 ini diharapkan pulang dengan membawa modal mental dan keyakinan baru untuk menghadapi fase pendidikan menengah pertama. (Harlin/Diah)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article