Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Thursday, June 18, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Mengubah Tutup Botol Menjadi Karya: Cara Siswa MI Muhammadiyah 25 Surabaya Belajar Merawat Bumi

Must read

Surabaya, wartapoint – Pendidikan karakter yang efektif acapkali tidak lahir dari lembar-lembar kaku buku teks di dalam kelas, melainkan dari kedekatan siswa dengan realitas di sekitarnya. Prinsip hidup ekologis inilah yang coba ditanamkan kepada para siswa kelas 3C MI Muhammadiyah 25 Surabaya melalui kegiatan Guest Teacher pada Kamis (18/6/2026).

​Pagi itu, ruang kelas disulap menjadi bengkel kreativitas. Pukul 08.00 hingga 09.00 WIB, puluhan siswa tampak sibuk memilah, menyusun, dan merangkai benda yang biasanya berakhir di tempat sampah: tutup botol plastik.

​Sebagai mentor, pihak sekolah menghadirkan Yulianti, seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan orang tua dari salah satu siswa bernama Ibnu Hatim. Kehadirannya membuktikan bahwa panggung pendidikan inklusif dapat diisi oleh siapa saja yang memiliki kepedulian bagi masa depan generasi muda.

​Filosofi 3P: Planet, Pikiran, dan Pulsa

​Dalam pemaparannya, Yulianti tidak sekadar mengajak anak-anak membuat kerajinan tangan, melainkan memperkenalkan sebuah filosofi sederhana yang mudah dicerna anak usia sekolah dasar, yaitu gerakan 3P: Planet, Pikiran, dan Pulsa.

  • Planet (Kepedulian Lingkungan): Yulianti memberikan pemahaman bahwa tutup botol plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Dengan menyelamatkan satu tutup botol untuk didaur ulang, siswa telah mengambil peran nyata dalam mengurangi beban bumi.
  • Pikiran (Kreativitas): Proses merangkai pola dan menghias tutup botol melatih ketajaman berpikir kreatif, kesabaran, serta mengasah motorik halus anak. Kreativitas sejati terbukti bisa lahir dari benda-benda sederhana tanpa biaya mahal.
  • Pulsa (Nilai Ekonomi): Aspek ini menjadi yang paling memantik rasa penasaran siswa. Yulianti menjelaskan bahwa di tangan yang kreatif, limbah plastik bisa menjelma menjadi gantungan kunci, hiasan dinding, hingga tatakan gelas yang memiliki nilai jual (ekonomis).

​”Saya terharu melihat anak-anak begitu antusias. Kita perlu mengubah pola pikir bersama bahwa sampah bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah karya. Mulailah dari diri kita sendiri, karena hal besar selalu berawal dari langkah kecil,” tutur Yulianti.

​Antusiasme dan Kegembiraan Siswa

​Suasana kelas riuh oleh tawa dan decak kagum saat para siswa mulai mengeksekusi karya mereka sendiri. Bagi anak-anak, mengubah limbah menjadi barang berdaya guna memberikan kepuasan tersendiri.

​M. Kevin Ar Rafi, salah satu siswa kelas 3C, mengaku mendapat sudut pandang baru dari kegiatan ini. “Saya senang sekali. Sekarang saya tahu kalau tutup botol plastik yang biasanya dibuang ternyata bisa diubah jadi karya yang bagus dan bermanfaat,” ujarnya riang.

​Hal senada diungkapkan Mutiara Malika Arsyila Maryam. Ia langsung menangkap peluang dari aspek “Pulsa” yang diajarkan. “Selain bisa membantu mengurangi sampah, tutup botol ini bisa jadi produk yang menghasilkan cuan (uang). Saya jadi ingin mencoba membuat karya lain dari barang bekas di rumah,” kata Mutiara.

​Sinergi Sekolah dan Orang Tua

​Wali kelas 3C, Ustadzah Arum, mengapresiasi program Guest Teacher ini sebagai jembatan penting untuk pembelajaran kontekstual yang menghubungkan teori sekolah dengan realitas sosial. Menurutnya, siswa diajar untuk menghargai ilmu dari siapa saja, termasuk dari figur seorang ibu rumah tangga.

​Apresiasi tinggi juga datang dari jajaran struktural sekolah. Kepala MI Muhammadiyah 25 Surabaya, Ferry Rismawan, M.Pd.I, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh orang tua yang terlibat sepanjang tahun ajaran 2025/2026.

​”Kolaborasi dan kehadiran wali murid dari berbagai latar belakang profesi memberikan warna tersendiri. Semoga sinergi ini terus konsisten dalam mencetak generasi yang berilmu, berkarakter, dan berkemajuan,” sebut Ferry.

​Senada dengan kepala sekolah, Bidang Kurikulum, Ustadzah Eni, mengucap syukur atas rampungnya seluruh rangkaian program Guest Teacher pada tahun ajaran ini. Ia berharap pemanfaatan ruang belajar berbasis komunitas dan keluarga ini dapat terus dipertahankan pada tahun-tahun ajaran berikutnya.

​Melalui sebongkah tutup botol plastik, para siswa MI Muhammadiyah 25 Surabaya hari itu belajar sebuah filosofi hidup yang mendalam: bahwa setiap masalah lingkungan selalu memiliki solusi, dan setiap kepedulian yang konsisten akan selalu melahirkan nilai baru bagi masa depan bumi. (Siti Islaha)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article