Surabaya, wartapoint — Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, minat masyarakat terhadap warisan budaya Nusantara menunjukkan tren yang menggembirakan. Salah satu perhatian utama tertuju pada keris, senjata tradisional Indonesia yang telah diakui dunia sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.
Bagi kolektor sekaligus pemerhati budaya, KRA Rivo Cahyono Setyonegoro, keris bukan sekadar senjata tajam atau benda pusaka kuno. Di dalam setiap bilahnya, tersimpan jalinan seni, sejarah, filosofi, hingga identitas bangsa yang harus terus dijaga oleh generasi penerus.
”Awalnya saya melihat keris bukan sebagai benda mistis semata. Di dalam satu bilah keris terdapat teknologi tempa yang luar biasa, sejarah, filosofi, bahkan jejak spiritual para leluhur. Saya menyadari satu keris bisa menyimpan cerita yang telah melintasi ratusan tahun,” ujar Rivo saat ditemui di Surabaya, Senin (22/6/2026).
Langkah Rivo mendalami dunia perkerisan dimulai sejak 12 tahun lalu. Perjalanan panjangnya sebagai kolektor diawali ketika ia menerima sebuah keris sepuh ber-dhapur (bentuk) Tilam Upih dari seorang sesepuh. Pengalaman pertama itulah yang membuka kesadarannya bahwa mengoleksi keris adalah sebuah tanggung jawab besar untuk merawat sejarah, bukan sekadar kebanggaan personal.
Bahasa Simbolik para Leluhur
Rivo menjelaskan bahwa keris merupakan bahasa simbolik yang diwariskan oleh leluhur. Setiap lekuk, bentuk, hingga motif pamor (pola visual pada bilah) memiliki pesan filosofis yang mendalam tentang kehidupan.
- Dhapur Tilam Upih: Melambangkan kesederhanaan dan fondasi kehidupan yang kokoh.
- Dhapur Sabuk Inten: Menggambarkan kemuliaan, kemakmuran, dan tanggung jawab moral.
- Dhapur Naga Sasra: Sering dimaknai sebagai simbol kepemimpinan, kewibawaan, dan kekuatan batin.
Dalam dunia perkerisan, menilai sebuah pusaka juga membutuhkan ketelitian ilmu yang mumpuni. Penilaian tidak hanya terpaku pada usia, melainkan pada kualitas garap tempa, periode pembuatan (tangguh), hingga rekam jejak kepemilikannya.
Namun, Rivo menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan sekadar merawat fisik besi agar tidak korosi, melainkan menyelamatkan narasi sejarah yang menyertainya.
“Banyak keris yang masih utuh bilahnya, tetapi kisah dan asal-usulnya telah hilang. Padahal, narasi sejarah itulah yang menjadi ruh utama dari sebuah benda pusaka,” tutur Rivo.
Menepis Mistisisme, Merangkul Teknologi
Rivo juga menyoroti persepsi masyarakat yang kerap mengaitkan keris dengan hal-hal klenik atau mistis. Menurutnya, sudut pandang itu kembali kepada masing-masing individu, namun ia berharap kabut mistisisme tersebut tidak menutupi keagungan estetika dan ilmu pengetahuan yang ada pada keris.
”Jangan sampai persepsi mistis menutupi esensi sebenarnya. Keris adalah mahakarya budaya yang merekam perjalanan sejarah dan pemikiran tingkat tinggi leluhur bangsa,” tegasnya.
Melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, Rivo mengaku optimistis. Kehadiran media sosial justru menjadi jembatan edukasi yang efektif bagi generasi digital. Saat ini, semakin banyak anak muda yang mulai fasih mendiskusikan tangguh, dhapur, hingga pamor keris.
Menatap masa depan, ia menilai kemajuan teknologi seperti digitalisasi, museum virtual, dokumentasi tiga dimensi (3D), hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) harus disambut baik sebagai alat baru untuk melestarikan pengetahuan tradisional ini.
”Teknologi bukan ancaman bagi pelestarian budaya, justru bisa menjadi alat untuk memperpanjang usia pengetahuan tentang keris. Tantangannya adalah bagaimana manusia tetap memiliki kepedulian untuk menjaga warisan tersebut,” ucap Rivo.
Bagi Indonesia, keris adalah simbol pengingat bahwa bangsa ini pernah mencapai puncak kejayaan peradaban di masa lampau. Menjaga keris berarti menjaga kompas agar bangsa ini tidak kehilangan arah di masa depan.
”Keris adalah masa lalu yang tetap hidup agar masa depan tidak kehilangan arah. Selama bangsa ini masih mengingat akar budayanya, saya yakin keris tidak akan pernah mati,” pungkasnya. (Armand/yupan)





