Surabaya, wartapoint – Karakter yang kuat, kedisiplinan tinggi, dan mental pantang menyerah kembali membuahkan hasil manis bagi dunia pendidikan Kota Surabaya. Al Ghani Ibrahim Putra Wandana, siswa kelas 4 SD Muhammadiyah 18 Surabaya, sukses mengamankan podium tertinggi sebagai Juara 1 dalam ajang bergengsi UMSURA National Pencak Silat Championship 2026.
Kompetisi tingkat nasional yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada 20–24 Juni 2026 ini diikuti oleh sekitar 2.000 pesilat tangguh dari berbagai penjuru tanah air. Turun di kategori tanding kelas berat 60–62 kilogram, Ghani—sapaan akrabnya—berhasil menyisihkan para pesaingnya dan membawa pulang medali emas.
Buah Manis Proses Panjang Sejak Kelas 1 SD
Prestasi gemilang ini tidak datang secara instan. Dedikasi Ghani pada olahraga bela diri asli Indonesia ini telah dipupuk sejak ia duduk di bangku kelas 1 SD melalui Perguruan Tapak Suci Cabang 145 As Salam. Ketertarikannya bermula dari kekaguman terhadap sang kakak yang sudah lebih dulu aktif bertanding di gelanggang silat.
Demi mengejar mimpinya, Ghani menjalani rutinitas latihan yang ketat dua kali seminggu, yang kerap kali dilakukan pada malam hari atau Minggu pagi.
”Momen yang paling berkesan bagi saya adalah ketika berada di gelanggang pertandingan dan mendapatkan dukungan dari orang tua serta keluarga. Dukungan itu membuat saya semakin bersemangat untuk memberikan yang terbaik,” ujar Ghani.
Perjalanan menuju podium juara pun tak selalu mulus. Ghani sempat didera cedera kaki dalam sebuah pertandingan sebelumnya. Namun, alih-alih mundur, ia memilih bertahan hingga babak akhir dan keluar sebagai Juara 2. Pengalaman pahit itulah yang justru menempa mental bertandingnya menjadi sekeras baja hingga mampu meraih puncak prestasi pada kejuaraan kali ini.
“Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat. Tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah,” tegas Ghani, mengutip falsafah yang selalu ditanamkan pelatihnya.
Usai wasit mengesahkan kemenangannya di final, Ghani langsung melakukan sujud syukur di tengah gelanggang. Ke depan, bocah kelas 4 SD ini menargetkan mimpi yang lebih besar: mewakili Kota Surabaya di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
Dukungan Keluarga dan Apresiasi Sekolah
Keberhasilan Ghani membawa keharuan mendalam bagi keluarganya. Sang ibunda, Sulianah, S.E., mengungkapkan rasa syukur yang tak terhingga atas pencapaian sang buah hati yang lahir dari kombinasi doa dan ikhtiar panjang.
”Kami sangat bersyukur atas setiap proses yang telah Allah mudahkan. Semoga prestasi ini menjadi penyemangat bagi Ghani untuk terus belajar, berlatih, dan tetap rendah hati,” kata Sulianah. Ia juga berharap putranya tetap tumbuh menjadi pribadi yang saleh, menjaga akhlak, serta bermanfaat bagi sesama.
Apresiasi tinggi juga datang dari pihak sekolah. Kepala SD Muhammadiyah 18 Surabaya, Ach. Barizi, M.Pd., menyampaikan rasa bangganya atas determinasi yang ditunjukkan oleh anak didiknya tersebut.
”Prestasi ini menjadi bukti bahwa kerja keras, disiplin, doa, dan semangat pantang menyerah akan membuahkan hasil yang membanggakan. Semoga Ghani terus meningkatkan kemampuan, menjaga akhlak mulia, serta menjadi inspirasi bagi seluruh siswa lainnya untuk terus berprestasi sesuai potensi yang dimiliki,” tutur Barizi.
Kisah Al Ghani Ibrahim menjadi potret nyata bahwa sinergi antara pembinaan karakter di sekolah, kedisiplinan dalam berlatih, serta dukungan penuh dari keluarga mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara fisik dan prestasi, tetapi juga kokoh secara spiritual dan akhlak. (Desy/yupan)





