Surabaya, wartapoint – Menggeliatnya aktivitas logistik dan arus petikemas di wilayah Jawa Timur memicu peningkatan trafik kapal yang signifikan. Merespons tren positif tersebut, PT Terminal Teluk Lamong (TTL) mengambil langkah strategis dengan memperluas implementasi sistem Berthing Window (jendela sandar) dan Berthing Priority (prioritas sandar), yang kini mulai diterapkan di Terminal Petikemas (TPK) Berlian per 1 Juli 2026.
Langkah ini diambil untuk menjawab kebutuhan para pelaku usaha pelayaran terhadap kepastian jadwal sandar. Di tengah dinamika geopolitik global, ketepatan waktu menjadi kunci krusial demi menjaga konektivitas rute rantaian logistik nasional.
Sebelumnya, sistem manajemen tambatan berbasis kepastian waktu ini telah sukses berjalan di dua terminal lainnya, yakni TPK Teluk Lamong dan TPK Nilam.
Pangkas Waktu Tunggu dan Biaya Logistik
Secara teknis, Berthing Window merupakan sistem penjadwalan sandar kapal melalui alokasi slot waktu kedatangan yang telah ditetapkan secara definitif. Melalui kepastian ini, kapal tidak perlu tertahan lama di area labuh, sehingga mampu memangkas waktu tunggu (waiting time) sekaligus mempercepat durasi singgah kapal (port stay) selama proses bongkar muat.
Di TPK Berlian sendiri, skema Berthing Window dirancang menggunakan pola klaster waktu, yakni pola 7 hari, 5 hari, dan 3,5 hari.
Sementara itu, bagi kapal-kapal yang berada di luar pola klaster tersebut, pelayanan tambatan akan diatur menggunakan mekanisme Berthing Priority. Sistem prioritas ini didasarkan pada urutan pemesanan (booking) slot dermaga yang telah diajukan oleh pihak pelayaran sebelumnya.
“Kami akan mengoptimalkan empat tambatan sebagai dedicated berthing window. Langkah ini diambil untuk memastikan alokasi sandar kapal berjalan lebih terjadwal, tertata, dan efektif,” ujar Terminal Head TPK Berlian, Burhanudin.
Agar sistem baru ini dapat berjalan optimal di lapangan, pihak pelayaran diwajibkan untuk menyampaikan pembaruan estimasi waktu kedatangan kapal (Estimated Time of Arrival/ETA) secara berkala kepada pihak pengelola terminal.
Digitalisasi dan Kolaborasi Multi-Stakeholder
Sebelum resmi digulirkan, TTL telah menggelar sosialisasi dan sesi diskusi (sharing session) bersama para pemangku kepentingan serta perusahaan pelayaran besar nasional di Shangri-La Hotel Surabaya pada Senin (22/6/2026).
Sejumlah maskapai pelayaran yang hadir antara lain PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL), PT Meratus Line, PT Tanto Intim Line, PT Temas Shipping, PT Indo Container Lines, PT PPN Panurjwan, PT Caraka Tirta Perkasa, dan PT Mentari Mas Multimoda.
Burhanudin menegaskan, langkah ini merupakan komitmen keterbukaan dan pelayanan prima dari perusahaan kepada pengguna jasa.
”Kami ingin menciptakan ekosistem operasional pelabuhan yang lebih transparan, tertata, dan efisien, yang pada akhirnya dapat mendukung penurunan biaya logistik nasional,” tambahnya.
Guna mendukung kelancaran transisi operasional ini, penerapan sistem ditopang penuh oleh penguatan infrastruktur teknologi informasi. Lewat sistem digital tersebut, perusahaan pelayaran kini dapat memantau jadwal operasional tambatan secara langsung (real-time).
Modernisasi ini selaras dengan visi transformasi PT Pelindo Terminal Petikemas dalam menstandardisasi layanan dan menggenjot produktivitas di seluruh terminal petikemas di Indonesia. Dengan optimalisasi tambatan baru ini, TTL optimistis arus logistik dari dan menuju gerbang ekonomi Jawa Timur akan berjalan jauh lebih lancar dan kompetitif. (Armand)





