Surabaya, wartapoint – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Pendidikan, Komunikasi, dan Sains (FPKS) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menggelar Festival Lentera 2026 (Literasi, Edukasi, dan Seni Sastra) pada Kamis (2/7/2026).
Mengusung tema “Transformasi Gagasan Menjadi Karya, Inovasi, dan Solusi bagi Masyarakat”, festival ini menjadi ruang apresiasi sekaligus implementasi nyata dari kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang kini tengah diakselerasi di perguruan tinggi.
Ketua Program Studi PBSI Umsura, Pheni Cahya Kartika, M.Pd., menjelaskan bahwa Festival Lentera diinisiasi untuk menunjukkan bahwa capaian pembelajaran mahasiswa tidak boleh berhenti pada penilaian akademik di atas kertas atau sekadar indeks prestasi.
”Proses pembelajaran di kelas harus menghasilkan karya nyata yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan bermanfaat bagi masyarakat. Inilah esensi kurikulum berbasis OBE yang menekankan pada luaran pembelajaran (output),” ujar Pheni.
Menguji Akuntabilitas Publik Mahasiswa
Festival yang diikuti oleh 85 peserta dari unsur dosen, mahasiswa, alumni, dan tamu undangan ini dibuka resmi oleh Dekan FPKS Umsura, Achmad Hidayatullah, Ph.D. Dalam sambutannya, Achmad menegaskan bahwa tradisi menampilkan unjuk karya (showcase) hasil belajar merupakan bagian penting dari budaya akademik yang sehat.
”Ketika karya mahasiswa dipresentasikan kepada publik, mereka belajar mempertanggungjawabkan proses berpikir, menerima masukan, sekaligus membangun kepercayaan diri sebagai calon profesional,” kata Achmad. Ia menambahkan, model diseminasi karya seperti ini sangat layak diadopsi di tingkat fakultas untuk program studi lainnya.
Dalam festival tersebut, sebanyak 14 mata kuliah dari mahasiswa angkatan 2023, 2024, dan 2025 dipamerkan melalui tiga stan besar. Sekretaris Program Studi PBSI Umsura, Idhoofiyatul Fatin, M.Pd., menjabarkan ragam luaran inovatif yang dihasilkan mahasiswa selama perkuliahan.
Karya yang dipamerkan mencakup bahan ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), media pembelajaran interaktif, modul ajar, majalah digital, infografis perkembangan kurikulum, hingga bunga rampai hasil analisis sastra dan kebahasaan.
Kritik Sastra Eksperimental di Atas Panggung
Selain pameran produk literasi, Festival Lentera 2026 juga menghidupkan iklim akademik lewat panggung apresiasi seni. Mahasiswa menampilkan musikalisasi puisi, pementasan drama, hingga seni bela diri pencak silat.
Menariknya, atmosfer ruang kelas tetap dibawa ke atas panggung. Seusai pementasan drama, sesi tidak langsung berakhir melainkan dilanjutkan dengan forum evaluasi dan kritik dari para dosen. Dr. Yarno, M.Pd., salah satu dosen senior PBSI, memberikan catatan kritis sekaligus apresiasinya secara langsung.
”Kegiatan ini sangat bagus untuk mengasah mental. Namun, untuk pementasan ke depan, properti yang sudah disiapkan dengan matang harus dieksplorasi secara maksimal di setiap adegan agar pesan cerita tersampaikan lebih kuat,” tutur Yarno.
Sinergi Alumni dan Ketahanan Masa Depan
Sebagai pemungkas rangkaian acara, festival ditutup dengan kuliah umum bertajuk “Keberlanjutan dan Ketahanan Masa Depan melalui Inovasi” yang dipandu oleh Idhoofiyatul Fatin. Kuliah umum ini menghadirkan alumni berprestasi PBSI, Dwiki Ayu Pramudya, S.Pd., Gr.
Dwiki, yang berhasil menyelesaikan studi sarjana dalam waktu 3,5 tahun dan langsung lolos Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), membagikan kiat suksesnya menghadapi transisi dari dunia kampus ke dunia kerja.
”Kompetensi soft skills seperti kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama tidak datang tiba-tiba. Pengalaman menjadi relawan serta aktif membantu berbagai kegiatan di program studi selama kuliah terbukti menjadi bekal berharga yang meloloskan saya dalam seleksi PPG,” ungkap Dwiki.
Melalui ekosistem kolaboratif yang mempertemukan mahasiswa, dosen, dan alumni ini, PBSI Umsura menegaskan komitmennya untuk mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga adaptif dan siap menghadirkan solusi konkret di tengah masyarakat. (Ahmad Mahmudi/yupan)





