Jangan Malas, Dunia Terlalu Luas: Dari Budaya Menunggu Menuju Generasi Pencipta Nilai

Must read

- Advertisement -

Oleh: Hasan Cholis, S.E. (Mahasiswa S2 M.H.E.S. Sekolah Pasca Sarjana UMSURA)

​Anggapan bahwa “anak muda sekarang malas” telah menjadi stigma yang kerap terdengar di tengah masyarakat. Padahal, fenomena ini jauh lebih kompleks daripada sekadar penilaian moral. Di balik bayang-bayang ketidakberdayaan itu, terdapat dinamika mentalitas, ketimpangan kesempatan, percepatan teknologi, hingga pergeseran makna kesuksesan. Namun, terlepas dari segala tantangan struktural yang ada, satu hal yang harus disadari oleh generasi muda: keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bergerak.

​Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada triwulan I-2026, ditopang oleh angkatan kerja sebesar 154,91 juta orang dan penduduk bekerja sebanyak 147,67 juta orang (data Februari 2026), memperlihatkan gambaran ganda. Di satu sisi, roda perekonomian terus berputar dinamis. Di sisi lain, angka-angka tersebut menegaskan betapa ketatnya kompetisi di pasar kerja. Dunia hari ini terlalu luas jika hanya dihadapi dengan sikap pasif menunggu pembukaan lowongan pekerjaan.

Mengubah Cara Pandang: Menjadi Subjek Ekonomi

​Generasi muda perlu melakukan lompatan paradigma. Orientasi diri tak lagi cukup bertumpu pada pertanyaan “Di mana saya akan bekerja?”, melainkan harus bergeser menjadi “Nilai apa yang dapat saya ciptakan?”.

​Kritik Karl Marx mengenai alienasi manusia dalam sistem kapitalisme mengingatkan bahwa tanpa kesadaran penuh, individu rentan hanya menjadi sekadar roda penggerak atau objek dari proses produksi. Agar tak terjebak menjadi objek, anak muda harus mengambil kendali sebagai subjek ekonomi. Hal ini memerlukan penguasaan keterampilan, pengetahuan yang relevan, jejaring yang luas, serta keberanian untuk mengambil langkah awal.

​Memulai bisnis atau menciptakan usaha, misalnya, tidak selalu membutuhkan modal finansial yang besar. Peluang kerap bersembunyi di balik masalah sehari-hari—mulai dari sektor pangan, jasa, teknologi, pendidikan, pertanian, ekonomi kreatif, hingga niaga digital. Modal utama yang paling mendasar bukanlah uang, melainkan kepekaan dalam membaca kebutuhan pasar.

Melampaui Budaya Menunggu dan Formalitas Pendidikan

​Penghambat terbesar kemajuan anak muda sering kali adalah budaya menunggu—menunggu pekerjaan ideal, menunggu datangnya modal, atau menunggu orang lain membukakan jalan. Padahal, ritme dunia tidak pernah melambat hanya untuk menunggu seseorang siap.

​Perspektif Michel Foucault mengenai relasi kuasa dan pengetahuan menegaskan bahwa pengetahuan bukan sekadar pemahaman teoritis di dalam ruang kelas. Pengetahuan adalah instrumen yang menentukan cara seseorang membaca realitas dan mengambil posisi strategis di dalamnya. Keterampilan tanpa basis pengetahuan akan mudah terbawa arus, sedangkan pengetahuan tanpa keterampilan praktis hanya akan berujung pada ketertinggalan.

​Oleh karena itu, reorientasi pendidikan menjadi krusial. Perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada pencetakan pemegang ijazah atau pencari kerja (job seeker). Lembaga pendidikan harus mentransformasi diri menjadi inkubator yang melahirkan pencipta lapangan kerja (job creator), inovator, pengusaha, dan pemecah masalah sosial.

​Sebagaimana terekam dalam Statistik Pemuda Indonesia 2025 oleh BPS, pembangunan pemuda mencakup dimensi yang multidimensional—mulai dari pendidikan, ketenagakerjaan, hingga kondisi sosial-ekonomi. Persoalan kepemudaan tidak dapat disederhanakan sekadar angka pengangguran, melainkan bagian integral dari pembangunan manusia secara utuh.

Panggilan untuk Bertumbuh

​Seruan “jangan malas” tidak boleh berhenti sebagai jargon atau nasihat moral yang dangkal. Seruan ini harus diwujudkan dalam tindakan nyata: keberanian untuk terus belajar, mencoba, mengalami kegagalan, mengevaluasi diri, dan bangkit kembali.

​Tujuan utama generasi muda bukanlah menjadi kaya secara instan, melainkan memastikan adanya pertumbuhan kapasitas secara konsisten setiap tahun—menjadi lebih terampil, lebih berani, lebih produktif, dan memberi dampak yang lebih luas.

​Dunia ini terlalu luas jika hanya disaksikan dari balik layar smartphone, terlalu penuh peluang untuk sekadar dikeluhkan, dan terlalu banyak tantangan jika hanya direspons dengan komentar pasif.

​Jangan malas. Belajarlah, bergeraklah, dan ciptakan sesuatu. Sebab, dunia selalu menyediakan ruang bagi mereka yang bersedia untuk terus bertumbuh.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article