Oase Hijau Sekolah Kreatif, Ruang Belajar untuk Membentuk Karakter Mandiri

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint — Kampus 2 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, yang dikenal sebagai Sekolah Kreatif Baratajaya, menjadi ruang berbagi praktik baik pengelolaan sekolah ramah lingkungan. Hal itu mengemuka dalam rapat bersama Asosiasi Sekolah Kreatif yang digelar di lantai 2 Kampus 2, Jalan Baratajaya 11 Surabaya, Kamis (13/8/2026).

Rapat dihadiri Kepala Sekolah Kreatif Muhammadiyah Tulangan Fahruddin, S.Pd.I., M.Pd bersama wakilnya, Kepala SD Kreatif Muhammadiyah 1 Bangil Pasuruan Marisa Izzah, S.Pd., M.Pd. bersama wakilnya, Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya Ely Rhodlifah, M.Pd bersama wakilnya, Ketua Asosiasi Sekolah Kreatif Maulana Muhammad, S.Pd. Penggagas Sekolah Kreatif Heru Tjahyono, serta Suyono, S.Si, Wakil Kepala Sekolah Kreatif Baratajaya.

Rapat dimulai pukul 09.00 WIB dan dibuka oleh Maulana Muhammad. Sejumlah agenda dibahas, termasuk penguatan praktik baik sekolah kreatif agar tidak hanya berorientasi pada pelayanan pendidikan, tetapi juga memperhatikan kesehatan, karakter, dan keberlanjutan lingkungan.

Heru Tjahyono kemudian mengawali pembahasan dengan memaparkan sejarah dan filosofi Sekolah Kreatif Baratajaya.
“SD Muhammadiyah 16 Surabaya berdiri di tengah hiruk-pikuk Kota Pahlawan sebagai sekolah kreatif yang berani mengusung konsep ramah lingkungan,” ujar Heru.

Menurutnya, salah satu bentuk komitmen tersebut terlihat dari kebijakan ruang kelas yang tidak menggunakan pendingin udara atau AC.
“Komitmen ini bukan sekadar efisiensi energi, tetapi menjadi bagian dari pembelajaran untuk mengajak siswa hidup selaras dengan alam serta membumikan nilai-nilai keislaman sejak dini,” jelasnya.

Heru menambahkan, desain bangunan sekolah juga mendukung konsep tersebut. Ruang kelas dirancang dengan jendela lebar dan ventilasi silang sehingga memungkinkan terjadinya sirkulasi udara alami.
“Pepohonan rindang dan tanaman hijau di lingkungan sekolah menciptakan suasana yang sejuk dan menyegarkan. Udara terus berganti sehingga ruang belajar terasa lebih alami,” katanya.

Konsep tersebut, lanjut Heru, tidak berhenti pada desain fisik bangunan. Lingkungan sekolah justru dijadikan bagian dari pengalaman belajar siswa.
“Anak-anak tidak hanya diberi pengetahuan tentang lingkungan melalui buku. Mereka mengalaminya secara langsung setiap hari,” tambahnya.

Maulana Muhammad menilai kebiasaan belajar di ruang kelas tanpa AC juga memiliki dimensi pendidikan karakter.
“Belajar tanpa AC mendidik siswa memiliki daya tahan fisik dan kemampuan beradaptasi. Mereka tidak selalu bergantung pada kenyamanan instan,” tuturnya.

Menurut Maulana, kondisi tersebut dapat menjadi latihan sederhana bagi siswa untuk mengenali dan merespons lingkungan di sekitarnya.
“Angin alami, suhu udara, dan suasana lingkungan bisa menjadi bagian dari pembelajaran. Anak belajar bahwa kenyamanan tidak selalu berarti harus serba instan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Suyono, S.Si. Ia melihat konsep ramah lingkungan sebagai media pembelajaran yang konkret.
“Konsep ini menjadi media pembelajaran aktif untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” kata Suyono.

Ia menjelaskan, pengurangan penggunaan energi listrik juga dapat mengenalkan siswa pada gaya hidup yang lebih hemat energi.
“Melalui pengalaman sehari-hari, nilai ekologis bisa terinternalisasi. Anak belajar menjaga dan merawat bumi sebagai bagian dari tanggung jawab manusia,” ungkapnya.

Dalam rapat tersebut, peserta sepakat bahwa penguatan sekolah kreatif perlu berjalan seimbang antara peningkatan kualitas pelayanan dan perhatian terhadap kesehatan serta keberlanjutan lingkungan.

Kepala SD Kreatif Muhammadiyah 1 Bangil Pasuruan, Marisa, mengapresiasi praktik yang telah menjadi budaya di Sekolah Kreatif Baratajaya.
“Yang menarik adalah kebiasaan baik ini tidak muncul sebagai program sesaat. Ia sudah menjadi bagian dari budaya sekolah,” ujarnya.

Marisa menilai pengalaman Sekolah Kreatif Baratajaya dapat menjadi bahan refleksi bagi sekolah-sekolah kreatif lainnya.
“Kami mendapatkan pembekalan bahwa pelayanan pendidikan tidak hanya berbicara tentang fasilitas, tetapi juga bagaimana sekolah membangun kebiasaan yang baik bagi anak,” katanya.

Sementara itu, Ely Rhodlifah memberikan penguatan bahwa konsep pendidikan ramah lingkungan harus tetap ditempatkan dalam kerangka pembentukan karakter.
“Melalui keberanian mempertahankan ruang kelas tanpa AC, SD Muhammadiyah 16 Surabaya menunjukkan bahwa pembelajaran berkualitas tidak selalu bergantung pada fasilitas modern yang konsumtif,” ujar Ely.

Menurutnya, lingkungan sekolah dapat menjadi bagian penting dalam membentuk karakter siswa.
“Sekolah kreatif berusaha memadukan pendidikan karakter, ketahanan mental, dan kesadaran lingkungan dalam satu ruang belajar yang hangat dan alami,” tambahnya.

Rapat Asosiasi Sekolah Kreatif tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi forum koordinasi. Pertemuan itu menjadi ruang refleksi bersama bahwa sekolah dapat menghadirkan inovasi pendidikan melalui hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Di Sekolah Kreatif Baratajaya, ruang hijau, udara alami, dan kebiasaan hidup hemat energi diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Dari lingkungan tersebut, siswa tidak hanya belajar pengetahuan, tetapi juga dilatih menjadi pribadi yang mandiri, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
(Suyono/Ahmad)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article