
Surabaya, wartapoint — Implementasi Leader in Me di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya tidak berhenti pada pembelajaran siswa. Nilai-nilai kepemimpinan dan karakter juga mulai dibangun melalui kebiasaan sederhana di antara guru dan karyawan, salah satunya lewat Rekening Bank Emosi (RBE).
Kepala Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya Ely Rhodlifah, SH., M.Pd., mengajak seluruh guru dan karyawan mengisi RBE dengan mencatat kebaikan yang dilakukan rekan kerja. Ajakan tersebut disampaikan melalui grup WhatsApp sekolah, Sabtu (22/8/2026).
“Sebagai bagian untuk kesuksesan kurikulum Leader in Me, kita juga ikut menyukseskan beberapa komponen untuk menunjang implementasi kurikulum tersebut. My Leadership Portfolio dan Rekening Bank Emosi adalah bagian dari implementasi kurikulum Leader in Me,” ujar Ely.
Bagi Ely, keterlibatan guru dan karyawan menjadi penting karena budaya sekolah tidak cukup dibentuk melalui program yang hanya diberikan kepada peserta didik.
“Tidak hanya siswa, tetapi guru dan karyawan wajib melaksanakan semua kegiatan implementasi kurikulum Leader in Me untuk menciptakan suatu culture pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter,” katanya.
Menurut dia, RBE menjadi sarana untuk membiasakan warga sekolah memberikan perhatian terhadap hal-hal positif yang dilakukan orang lain.
“RBE bukan sekadar menulis, tetapi sebuah langkah kecil untuk melihat, menghargai, dan mengapresiasi kebaikan orang-orang di sekitar kita,” tutur Ely.
Dari Rekan Kerja untuk Rekan Kerja
Gerakan tersebut mendapat sambutan positif dari karyawan. Dheni Dhipa Wardana, S.Pd., menilai RBE memiliki makna lebih dari sekadar catatan apresiasi.
“Rekening Bank Emosi ini adalah bentuk investasi emosi kita. Setiap membaca Rekening Bank Emosi kita mendapatkan energi positif dari rekan-rekan kita,” ungkap Dheni.
Ia mengatakan, apresiasi dari teman kerja dapat menjadi pengingat bahwa setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti.
“Kadang kita tidak tahu bahwa hal kecil yang kita lakukan ternyata diperhatikan oleh orang lain. Ketika kebaikan itu dituliskan, kita menjadi tahu bahwa apa yang kita lakukan memberikan dampak,” ujarnya.
Dheni berharap RBE dapat menjadi kebiasaan yang terus tumbuh di lingkungan sekolah.
“Kalau dilakukan secara konsisten, saya kira ini bisa menjadi budaya positif. Kita tidak hanya bekerja bersama, tetapi juga belajar saling menguatkan,” katanya.
Respons positif juga ditunjukkan sejumlah karyawan lain. Ana Habibah, SE., Ak., Tri Dewi Sartika, SE., Widya Insani Nahrita, SE., Agustiningsih, SE., dan Assabaniyah, Amd. turut kooperatif dalam mengisi RBE.
Mengubah Cara Pandang
Kaur Kurikulum Sekolah Kreatif, Fahmi Muqoddas, S.Pd., mengatakan inti dari RBE bukan terletak pada banyaknya catatan yang terkumpul, melainkan kebiasaan untuk melihat kebaikan orang lain.
“Untuk seluruh ustaz, ustazah, guru dan karyawan, mulai hari ini mari kita bersama-sama mengisi RBE dengan satu kebaikan dari teman kita,” ajaknya.
Fahmi mengatakan kebaikan yang ditulis tidak harus sesuatu yang istimewa.
“Tidak harus besar, karena kebaikan sekecil apa pun tetap memiliki makna,” katanya.
Ia mencontohkan sejumlah hal sederhana yang dapat ditulis, seperti bantuan dalam pekerjaan, perhatian kepada rekan, ucapan yang memberikan semangat, atau tindakan kecil yang membuat seseorang merasa dihargai.
“Bisa berupa bantuan kecil, perhatian, kata-kata yang menguatkan, atau tindakan sederhana yang membuat hati kita merasa dihargai,” jelas Fahmi.
Menurutnya, kebiasaan tersebut juga menjadi latihan untuk mengubah perspektif dalam bekerja.
“Ketika kita mulai terbiasa mencari kebaikan orang lain, cara kita memandang teman juga akan berubah. Kita menjadi lebih mudah menghargai daripada menghakimi,” ungkapnya.
Fahmi berharap RBE dapat menjadi bagian dari budaya keseharian di Sekolah Kreatif.
“Setiap kebaikan layak untuk diingat, diapresiasi, dan ditularkan. Ingat, satu kebaikan dari kita bisa menjadi energi positif bagi orang lain,” pungkasnya.
Melalui RBE, Sekolah Kreatif berupaya menghadirkan Leader in Me dalam praktik keseharian. Kepemimpinan tidak hanya tentang bagaimana seseorang memimpin, tetapi juga bagaimana ia mampu membangun hubungan yang saling menghargai dan memberikan energi positif bagi lingkungan sekitarnya.
(Ahmad Mahmudi)
#beritanasional #indonesia #jawatimur #surabaya #muhammadiyah #sekolah





