
Surabaya, wartapoint — Kajian Ahad pagi tidak selalu berakhir ketika penceramah menutup tausiyah. Di halaman SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ahad (20/9/2026), kebersamaan jamaah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel justru berlanjut dengan menikmati beragam sajian makanan dari pelaku UMKM Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di lingkungan PCM Ngagel.
Sebelumnya, sejak pukul 06.00 WIB, halaman sekolah yang menjadi lokasi Kajian Ahad Pagi PCM Ngagel telah dipenuhi jamaah. Kajian kali ini menghadirkan Drs. Aunur Rafiq, M.Si., sebagai pemateri. Acara dipandu Agus Mulyadi, M.Pd.
Jamaah berasal dari berbagai unsur Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), di antaranya guru dan karyawan SD Muhammadiyah 4, SMP Muhammadiyah 5, SMA Muhammadiyah 2, SD Muhammadiyah 16 Surabaya sebagai tuan rumah, serta jamaah dari sejumlah PRM di lingkungan PCM Ngagel.
Ketua PCM Ngagel, Drs. H. Ahmad Zaini, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas antusiasme jamaah.
“Terima kasih kepada para jamaah Kajian Ahad Pagi PCM Ngagel yang hadir pagi ini,” ujar Zaini.
Ia menyebut kehadiran jamaah dari berbagai AUM dan PRM menjadi bagian penting dalam menjaga kebersamaan warga Muhammadiyah.
“Kita berkumpul bukan hanya untuk mengikuti kajian, tetapi juga memperkuat silaturahmi di antara warga Muhammadiyah,” katanya.
Dari Kajian ke Refleksi Diri
Dalam kajiannya, Aunur Rafiq mengajak jamaah melihat kembali kualitas diri melalui cara menyikapi nikmat dan ujian.
Ia membuka materi dengan membicarakan Ulin Nuha, yakni kecerdasan yang tidak hanya bertumpu pada kemampuan berpikir, tetapi juga menyatukan nalar, spiritualitas, dan kematangan emosional.
“Ulin Nuha: puncak kecerdasan paripurna. Integritas utuh antara nalar, spiritualitas, dan kematangan emosional,” tutur Aunur.
Ia kemudian melontarkan pertanyaan kepada jamaah.
“Apakah panjenengan masih mencari alasan untuk tidak hadir dalam pengajian Ahad pagi?” tanyanya.
Pertanyaan itu menjadi pengantar untuk mengajak jamaah menyadari pentingnya waktu dan kesempatan.
Aunur mengutip QS. Ta-Ha ayat 54 yang menjelaskan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.
“Allah memberikan nikmat kepada kita untuk direnungkan. Karena itu, akal harus membawa kita kepada kesadaran dan rasa syukur,” ujarnya.
Nikmat Bukan Sekadar Kenikmatan
Menurut Aunur, salah satu persoalan manusia adalah mudah mengeluh ketika berhadapan dengan keadaan yang tidak sesuai harapan.
“Sebagai apa pun kita, apa pun profesinya, kalau masih mengeluh maka sebenarnya belum mensyukuri nikmat Allah,” katanya.
Ia mengajak jamaah mengenali berbagai bentuk nikmat, mulai dari alam semesta, waktu, kesempatan, kesehatan, hingga kekuatan fisik.
“Waktu dan kesehatan adalah nikmat yang sering kali kita rasakan biasa. Padahal, ketika keduanya berkurang, kita baru sadar betapa berharganya,” tuturnya.
Aunur juga mengingatkan bahwa nikmat berupa harta dan anak dapat menjadi ujian. Ia mengutip QS. Al-Mu’minun ayat 55-56 sebagai pengingat agar manusia tidak keliru membaca keberlimpahan sebagai tanda terbebas dari ujian.
“Yang perlu kita lihat bukan hanya apa yang diberikan Allah, tetapi bagaimana kita menggunakan pemberian itu,” jelasnya.
Ilmu, Harta, dan Amanah
Aunur kemudian menyampaikan pentingnya pengendalian hawa nafsu dalam memanfaatkan harta dan kebijaksanaan dalam menggunakan ilmu pengetahuan.
“Harta itu amanah. Ilmu juga amanah,” katanya.
Menurutnya, ilmu tidak seharusnya membuat seseorang semakin jauh dari lingkungan sosial.
“Ilmu pengetahuan harus melahirkan kebijaksanaan dan kemanfaatan,” ujarnya.
Hal yang sama berlaku bagi kepemimpinan.
“Ketika kita mendapatkan amanah kepemimpinan, harus semakin peka kepada sesama. Ada tanggung jawab sosial di dalamnya,” kata Aunur.
Ia juga mengingatkan jamaah agar memiliki kestabilan emosi ketika menghadapi ujian dan musibah.
Mengutip QS. Al-Baqarah ayat 155-156, ia menjelaskan bahwa manusia akan menghadapi berbagai bentuk ujian.
“Ujian itu bagian dari kehidupan. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya,” tuturnya.
Menurut Aunur, sikap sabar dan kesadaran bahwa manusia akan kembali kepada Allah menjadi bagian penting dalam menghadapi musibah.
“Ketika kita mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, kita sedang mengingatkan diri bahwa kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali,” katanya.
Ia kemudian mengajak jamaah menjaga kesucian hati, membangun hubungan yang baik dengan sesama, serta mencapai ketenangan batin atau thuma’ninah dalam beribadah.
“Pribadi bermuhammadiyah harus selalu didasarkan pada dakwah amar makruf nahi mungkar dalam bingkai kesabaran dan keikhlasan,” pungkas Aunur.
Kajian Berlanjut di Lapak UMKM
Usai mengikuti kajian, jamaah tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka kemudian menikmati suasana kebersamaan melalui bazar makanan yang disediakan oleh UMKM dari masing-masing PRM di lingkungan PCM Ngagel.
Beragam makanan dan minuman yang dibawa oleh warga Muhammadiyah menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ahad pagi tersebut.
Jamaah terlihat menikmati sajian sambil berbincang dan bersilaturahmi dengan jamaah lainnya.
Bazar tersebut sekaligus memberikan ruang bagi pelaku UMKM dari lingkungan PRM untuk memperkenalkan produk mereka kepada warga Muhammadiyah yang hadir.
Dengan demikian, rangkaian Kajian Ahad Pagi PCM Ngagel tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh penguatan keagamaan, tetapi juga mempertemukan jamaah dalam suasana silaturahmi sekaligus membuka ruang bagi pemberdayaan ekonomi warga melalui UMKM.
(Ahmad Mahmudi)





