IPM KIDS Sekolah Kreatif Baratajaya Bangun Kolaborasi Mitigasi

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint — Ruang belajar mitigasi bencana tak harus berhenti di lingkungan sekolah. Bagi IPM KIDS SD Muhammadiyah 16 Surabaya, pengetahuan tentang kebencanaan justru perlu dipelajari bersama pihak yang memiliki pengalaman di bidang tersebut.

Gagasan itu membawa dua siswa kelas VI Mas Mansyur, Nafiz Fairel Kenzie dan Faiz Aqila Adlar, datang ke Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Senin (14/9/2026).

Usai salat Dhuhur berjamaah, keduanya bersama Pembina IPM KIDS Nasyiatul Lailah, S.Pd., menyampaikan surat permohonan pelatihan mitigasi bencana kepada Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PDM Surabaya.

Rombongan Sekolah Kreatif Baratajaya tersebut diterima langsung Kepala Kantor PDM Kota Surabaya Misbahul Ulum.
Faiz Aqila Adlar yang merupakan Koordinator Bidang Lingkungan Hidup atau Leader Environment dalam Student Lighthouse Team (SLhT) menjelaskan bahwa kedatangan mereka merupakan bagian dari upaya membangun kerja sama.
“Kami IPM KIDS Sekolah Kreatif Baratajaya menyampaikan surat permohonan pelatihan mitigasi bencana di sekolah kami,” ujar Faiz.

Menurutnya, sekolah membutuhkan pendampingan agar siswa memperoleh pengalaman langsung mengenai mitigasi bencana.
“Kami ingin belajar tentang mitigasi bencana dan bagaimana cara menghadapi bencana dengan benar,” katanya.

Pelatihan tersebut direncanakan berlangsung Kamis (17/9/2026) pukul 13.00–14.30 WIB.
“Rencananya pelatihan mitigasi ini dilaksanakan Kamis pukul 13.00 sampai 14.30 WIB,” jelas Faiz.

Sekolah Membuka Ruang Kolaborasi
Nafiz Fairel Kenzie mengatakan gagasan pelatihan bermula dari diskusi IPM KIDS pada 8 September 2026. Dari diskusi tersebut, siswa melihat perlunya menghadirkan pihak yang memiliki kompetensi dalam kebencanaan.
“Kami merencanakan melaksanakan pelatihan mitigasi bencana dengan menggandeng MDMC PDM Surabaya,” ujar Nafiz.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari pembahasan yang dilakukan siswa.
“Acara ini merupakan follow up dari diskusi IPM pada 8 September 2026,” katanya.

Menurut Nafiz, kolaborasi dengan MDMC diharapkan membuat pembelajaran mitigasi lebih nyata.
“Kami ingin teman-teman tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga mendapatkan penjelasan dan latihan secara langsung,” ujarnya.

Langkah siswa tersebut mendapat sambutan dari Misbahul Ulum. Ia mengaku mengapresiasi keberanian IPM KIDS membangun komunikasi dengan lingkungan PDM.
“Surat saya terima. Saya merasa bangga pada kalian,” ujar Misbahul Ulum yang akrab disapa Pak Ulum.

Ia menilai keinginan siswa untuk belajar mitigasi merupakan respons positif terhadap berbagai kejadian bencana.
“Kalian punya inisiatif untuk melakukan latihan mitigasi dan ini bentuk respons dari berbagai kejadian bencana,” tuturnya.

Menurutnya, keberadaan MDMC dapat menjadi bagian penting dalam memberikan edukasi kebencanaan kepada warga sekolah.

Muhammadiyah sebagai Ruang Belajar
Pembina IPM KIDS Nasyiatul Lailah mengatakan proses pengajuan pelatihan tersebut menunjukkan bahwa siswa mulai mampu memanfaatkan jejaring yang ada di lingkungan Muhammadiyah.
“Pelatihan mitigasi ini atas inisiatif dari adik-adik IPM,” ujarnya.

Ia menjelaskan, guru memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan gagasan yang muncul dari diskusi mereka.
“Anak-anak yang mempunyai ide. Kami sebagai pembina mendampingi dan membantu mereka mewujudkan gagasan tersebut,” jelasnya.

Menurut Nasyiatul, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran tersendiri bagi siswa.
“Mereka belajar berkomunikasi, menyampaikan surat, membangun kerja sama, dan mencari pihak yang bisa mendukung kegiatan,” katanya.

Rencana pelatihan bersama MDMC PDM Surabaya akhirnya tidak hanya menjadi agenda IPM KIDS. Kegiatan tersebut sekaligus mempertemukan kebutuhan belajar siswa dengan sumber daya yang dimiliki Muhammadiyah.

Dari ruang sekolah, gagasan itu bergerak menuju PDM. Dari PDM, siswa berharap mendapatkan pengalaman kebencanaan bersama MDMC. Sebuah proses belajar yang memperlihatkan bahwa jejaring Muhammadiyah dapat menjadi ruang kolaborasi bagi pelajar untuk menjawab persoalan di lingkungan mereka.
(Ahmad Mahmudi)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article