Peringati World Heart Day, RSUP Kemenkes Surabaya Ajak Masyarakat Cegah Penyakit Jantung Sejak Dini

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint — Peringatan Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Kemenkes Surabaya menjadi momentum krusial untuk mengingatkan masyarakat bahwa menjaga kesehatan jantung tidak cukup dilakukan saat penyakit sudah muncul. Pencegahan dan pengendalian faktor risiko dinilai menjadi langkah utama untuk menekan angka kasus kardiovaskular.

​Penyakit jantung bukan hanya berdampak pada kondisi fisik pasien, melainkan juga membebani keluarga secara psikologis maupun finansial. Oleh karena itu, edukasi mengenai pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara berkala perlu terus diperkuat.

​Masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap berbagai faktor risiko, seperti kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, hingga tingkat stres.

​Kepastian Pembiayaan demi Layanan Medis Optimal

​Direktur RSUP Kemenkes Surabaya, dr. Martha M.L. Siahaan, S.H., MARS, M.H.Kes, menegaskan bahwa upaya menjaga kesehatan masyarakat harus berjalan selaras antara pencegahan, pelayanan medis, dan kepastian sistem pembiayaan.

​Menurutnya, rumah sakit membutuhkan kepastian pembiayaan agar operasional pelayanan—mulai dari ketersediaan obat-obatan hingga alat kesehatan—dapat terus berjalan tanpa hambatan.

“Jangan sampai ketika masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan, rumah sakit justru tidak berdaya karena persoalan pembiayaan. Rumah sakit membutuhkan kepastian untuk membeli barang, alat, obat, dan membayar kebutuhan pelayanan,” ujar dr. Martha.

​Ia menambahkan, keberlanjutan layanan kesehatan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan dukungan dari masyarakat serta sistem pembiayaan kesehatan yang solid.

​Fokus Perubahan Pola Pikir: Mencegah Lebih Murah dari Mengobati

​Perwakilan Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Provinsi Jawa Timur, dr. Agus Subagjo, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC, menekankan pentingnya menggeser pola pikir (mindset) masyarakat terkait penyakit jantung. Perhatian terhadap organ vital ini tidak boleh hanya muncul ketika seseorang sudah menjadi pasien.

​“Kalau dulu kita membantu mengobati dan mencegah, sekarang kita konsentrasikan pada pencegahan. Biayanya kalau mencegah itu tidak seperti kalau kita mengobati,” tegas dr. Agus.

​Ia juga menepis kekhawatiran masyarakat terkait akses medis. Pasien peserta BPJS Kesehatan tetap dapat memperoleh penanganan medis penyakit jantung—termasuk tindakan operasi maupun pemasangan ring—selama mengikuti prosedur yang berlaku.

“Sekarang BPJS sangat membantu masyarakat. Asal memiliki keanggotaan BPJS dan mengikuti prosedur yang ada, semuanya bisa dilayani,” jelasnya.

​Prinsip S-E-H-A-T dan Pengendalian Risiko Katastropik

​Penyakit jantung tergolong sebagai penyakit katastropik bersama dengan stroke dan gagal ginjal, yang berdampak besar terhadap kualitas hidup. Sebagai pengingat harian, masyarakat diimbau untuk menerapkan prinsip S-E-H-A-T dalam kehidupan sehari-hari:

  • ​Seimbangkan pola makan
  • ​Enyahkan rokok
  • ​Hindari dan kendalikan stres
  • ​Awasi tekanan darah
  • ​Teratur beraktivitas fisik dan rutin cek kesehatan

​Tekanan darah yang tinggi dan tidak dapat dikendalikan hanya dengan perubahan gaya hidup disarankan untuk segera dikonsultasikan kepada tenaga medis.

​Momentum World Heart Day di RSUP Kemenkes Surabaya ini diharapkan tidak sekadar menjadi ajang seremonial, tetapi mampu mendorong perubahan perilaku nyata di masyarakat demi kualitas hidup yang lebih baik bersama keluarga. (Armand)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article