
Surabaya, wartapoint — Lantunan merdu ayat suci Al-Qur’an membuka rangkaian agenda Kajian Ahad Pagi Sang Pencerah di Kompleks Muhammadiyah Boarding School (MBS) SMP Muhammadiyah 15 Surabaya, Jalan Platuk No. 104, Surabaya, Ahad (27/9/2026).
Enam murid program Tahfidz Baitul Huffadz MI Muhammadiyah 25 (MIM 25) Surabaya tampil percaya diri membacakan Surat Al-Muzzammil ayat 1–20 secara tartil di hadapan lebih dari 1.500 jamaah.
Keenam murid yang tampil dalam pembukaan kajian bertema “Nada, Cinta, dan Luka: Menghadirkan Allah di Setiap Detak” tersebut adalah Aisyah Alikha Putri, Aisyah Syifah Ainur, Almaqhvira Keysha Putri, M. Fazal Hammam, M. Nab’han Athar Rizky Nugroho, dan Gigih Hadi Kusuma.
Melatih Keberanian dan Menguji Hafalan
Penampilan di hadapan ribuan jamaah ini bukan sekadar pengisi acara formal, melainkan bagian dari metode pembelajaran langsung untuk melatih mental, membangun keberanian, serta menguji kesiapan hafalan para murid.
Kepala MI Muhammadiyah 25 Surabaya, Ferry Rismawan, M.Pd.I, menekankan pentingnya konsistensi (istiqomah) dalam menjaga hafalan Al-Qur’an.
“Yang paling penting adalah istiqomah. Anak-anak harus terbiasa menjaga hafalannya, sehingga kapan pun dan di mana pun dibutuhkan, mereka siap membaca Al-Qur’an. Kesempatan tampil seperti ini menjadi latihan agar mereka memiliki keberanian sekaligus kesiapan,” ujar Ferry.
Hal senada disampaikan oleh Wakil Kepala Madrasah MIM 25 Surabaya, Aksar Wiyono, M.Pd.I. Menurutnya, momentum ini menjadi pengalaman berharga yang membekali siswa tidak hanya dalam hal intelektual, tetapi juga mentalitas.
“Ini sebuah kesempatan dan pengalaman yang sangat baik bagi anak-anak. Mereka belajar tampil, belajar percaya diri, sekaligus belajar menjaga amanah hafalan Al-Qur’an. Semoga pengalaman ini menjadi motivasi untuk terus istiqomah,” tuturnya.
Sensasi Tampil di Depan Ribuan Hadirin
Salah satu murid yang bertugas, Aisyah Syifah Ainur, mengungkapkan perasaannya saat harus berdiri melantunkan hafalan di hadapan massa yang sangat besar.
“Lumayan nervous karena yang hadir banyak. Tapi alhamdulillah tetap bisa membaca hafalan dengan lancar. Setelah selesai saya merasa senang dan lega,” ungkap Aisyah.
Pentingnya Muraja’ah Berkelanjutan
Keberhasilan enam siswa melantunkan hafalan dengan lancar menunjukkan bahwa penguasaan Al-Qur’an membutuhkan proses konsisten. Program Baitul Huffadz di MIM 25 Surabaya tidak hanya mendorong siswa menambah hafalan baru (ziyadah), tetapi juga menekankan pentingnya mengulang hafalan secara rutin (muraja’ah).
Melalui pembiasaan muraja’ah dan kesempatan tampil di ruang publik, MIM 25 Surabaya berkomitmen melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya kuat secara hafalan, tetapi juga berani dan siap syiar di tengah masyarakat. (Siti Islaha)





