
Mojokerto, wartapoint — Udara dingin menusuk tulang di kawasan Air Terjun Dlundung, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Selasa (27/10/2026) pagi. Langit masih gulita, dan embun tebal menyelimuti dedaunan pegunungan. Namun, suasana syahdu tersebut tak menyurutkan langkah 148 siswa kelas 5 dan 6 SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) untuk bangkit dari tidur, mengambil air wudu, dan menunaikan salat Subuh berjamaah.
Rasa kantuk dan gigil pagi itu seolah tak berdaya melawan panggilan ibadah. Di alam terbuka yang sejuk, para siswa berbaris rapi merapatkan saf bersama para guru dan pembina Hizbul Wathan (HW). Kehadiran para pendidik di tengah-tengah barisan anak-anak menghadirkan pemandangan hangat: guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan teladan nyata yang membersamai setiap proses pembentukan karakter.
Salat Subuh berjamaah yang dipimpin langsung oleh Ketua Qobilah HW SD Mumtas, M. Khoirul Anam, menjadi pembuka hari yang sarat makna. Usai berzikir bersama, kegiatan bertransformasi menjadi ruang kelas terbuka yang menyatu dengan alam.
Di hadapan para generasi Qurani, M. Khoirul Anam—yang juga tercatat sebagai anggota LDK PP Muhammadiyah—mengajak anak-anak bertadabbur merenungkan Surah Al-Ghasyiyah ayat 17–20. Ayat tersebut menuntun manusia untuk mengamati kebesaran ciptaan Allah SWT: unta, langit, gunung, dan bumi.
Pendekatan dialogis pun cair di tengah alam pegunungan. “Anak-anak, mengapa Allah mengajak kita memperhatikan unta? Kok bukan kerbau, kambing, atau ayam?” tanyanya.
Dari empat elemen ciptaan tersebut, rangkaian pesan moral kehidupan disarikan secara mendalam bagi para pandu muda:
- Unta dan Rasa Syukur: Hewan gurun ini mengajarkan bahwa ketahanan hidup di lingkungan ekstrem lahir dari kebiasaan mensyukuri keadaan. Udara dingin di Trawas bukanlah alasan untuk mengeluh, sebagaimana teriknya panas bukan pula alasan untuk menggerutu. Setiap kondisi menyimpan nikmat tersendiri.
- Langit dan Kerendahan Hati: Hamparan langit luas menyadarkan betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta. Pelajaran ini sekaligus merefleksikan kisah kejatuhan Iblis akibat kesombongan, agar anak-anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang merasa paling hebat, pintar, atau benar.
- Gunung dan Ketangguhan: Kekokohan gunung menjadi simbol ketidakmudahan menyerah. Perkemahan ini melatih mental para pandu: jika lelah beristirahatlah, jika gagal bangkitlah, dan ubahlah keluhan menjadi aksi perbaikan nyata.
- Bumi dan Kepedulian Lingkungan: Hamparan bumi tempat berpijak mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam. Anak saleh tidak hanya saleh dalam ritual ibadah, tetapi juga peka menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar.
Pagi itu, Dlundung bertransformasi lebih dari sekadar lokasi perkemahan biasa. Alam raya menjelma menjadi ruang kelas raksasa, Al-Qur’an menjadi kompas panduan, dan kesejukan Subuh menjadi medium kontemplasi.
Di bawah langit Trawas yang perlahan terang tersibak fajar, 148 siswa SD Mumtas membawa pulang pelajaran berharga: menjadi Pandu Hizbul Wathan bukan sekadar mandiri dan berani, melainkan tumbuh menjadi insan yang dekat kepada Sang Kholik, santun kepada sesama, dan bertanggung jawab menjaga kelestarian alam semesta. (yupan)





