
Surabaya, wartapoint — Suasana halaman SD Muhammadiyah 22 Surabaya tampak antusias pada Selasa, 27/10/2026. Semangat literasi dan jurnalistik menggeliat melalui kegiatan reportase yang dilakukan oleh para siswa yang tergabung dalam tim jurnalis cilik sekolah.
Dalam momentum peringatan Hari Dokter Nasional yang diperingati setiap tanggal 24 Oktober, salah satu jurnalis cilik, Leandra Khadeeja Mumtaz, berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan rekan sejawatnya di tim jurnalis, Zhafira Shafwatul Azkiya. Wawancara interaktif ini mengangkat pandangan generasi muda mengenai peran penting dunia medis dan kesehatan di lingkungan sekolah.
Menumbuhkan Kesadaran Sejak Dini
Membuka perbincangan, Leandra menanyakan urgensi bagi civitas akademika SD Muhammadiyah 22 Surabaya untuk memperingati Hari Dokter Nasional. Zhafira menilai bahwa momentum tersebut sangat penting untuk mengenalkan profesi mulia sekaligus mengedukasi anak-anak tentang pentingnya menjaga kesehatan.
”Penting banget, karena profesi dokter punya peran besar untuk kesehatan masyarakat. Melalui media sekolah, kita bisa ikut mengedukasi teman-teman SD Muhammadiyah 22 Surabaya tentang pentingnya menjaga kesehatan dan memberikan apresiasi atas jasa para dokter,” ujar Zhafira penuh antusias.
Di mata anak-anak usia sekolah dasar, profesi dokter dipandang sebagai figur teladan yang penuh pengabdian. Zhafira menggambarkan dokter sebagai sosok pahlawan tanpa tanda jasa di bidang kesehatan yang membutuhkan ketenangan, ilmu tinggi, serta empati mendalam dalam melayani masyarakat kapan saja.
Membangun Kebiasaan Sehat dari Hal Sederhana
Mengaitkan Hari Dokter Nasional dengan gaya hidup sehari-hari, Zhafira juga membagikan pandangannya mengenai kebiasaan sehat yang perlu ditingkatkan oleh para siswa di sekolah. Menurutnya, kesehatan dapat dijaga melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
”Hal-hal sederhana tapi konsisten, seperti rutin memilih jajanan sehat di kantin, rajin cuci tangan sebelum makan, dan tidak memandangi layar ponsel terlalu lama saat waktu istirahat agar mata tidak lelah,” pesan Zhafira.
Jurnalisme dan Cita-Cita Menjadi Dokter
Menariknya, semangat peringatan hari besar ini juga membakar impian masa depan para siswa. Sejumlah anggota tim jurnalis ternyata menyimpan cita-cita mulia untuk mengenakan jas putih kelak. Zhafira menilai bahwa keterampilan yang dipelajari dalam dunia jurnalistik memiliki keterkaitan erat dengan profesi kedokteran.
”Ada beberapa teman kita yang ingin jadi dokter! Keterampilan jurnalisme seperti mendengarkan dengan baik, komunikasi yang jelas, dan rasa peduli sangat membantu, karena seorang dokter juga harus pandai berkomunikasi dengan pasiennya,” jelasnya.
Pesan Inspiratif untuk Dokter Indonesia
Menutup sesi wawancara di halaman sekolah, Zhafira menyampaikan harapan besar dari lensa jurnalis cilik SD Muhammadiyah 22 Surabaya. Liputan ini diharapkan tidak hanya menginspirasi sesama pelajar untuk lebih peduli pada kesehatan tubuh, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan tulus bagi tenaga medis di seluruh tanah air.
”Harapannya, liputan kita bisa menginspirasi teman-teman untuk lebih peduli pada kesehatan tubuh sendiri, sekaligus mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya untuk seluruh dokter di Indonesia atas pengabdian mereka,” pungkasnya.
Kegiatan reportase ini menjadi bukti nyata bagaimana kreativitas jurnalistik pelajar SD Muhammadiyah 22 Surabaya mampu memadukan edukasi, apresiasi sosial, dan pembentukan karakter positif di lingkungan sekolah. (Tim jurnalis cilik SD Muhammadiyah 22 Surabaya)





