Saturday, April 18, 2026

Khutbah Jumat di Masjid Ath-Tholibin: Menjadikan Ramadan “Mesin Cuci” Spiritual dan Perekat Solidaritas

Must read

Jakarta, wartapoint – Masjid Ath-Tholibin yang berlokasi di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI menjadi saksi penyampaian pesan mendalam tentang persaudaraan universal pada Jumat (13/3/2026). Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadz Muchammad Arifin, hadir sebagai khatib dengan membawa pesan sentral: Islam adalah agama yang menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

​Dalam khutbahnya, Ustadz Arifin menekankan bahwa nilai kemanusiaan dalam Islam melampaui sekat-sekat perbedaan agama. Beliau mengingatkan jamaah bahwa kebaikan harus ditebarkan kepada siapa saja tanpa memandang latar belakang keyakinan.

Keberagaman sebagai Takdir untuk Saling Mengasihi

​Merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13, Ustadz Arifin menjelaskan bahwa eksistensi manusia yang diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa bukanlah untuk memicu permusuhan, melainkan sebagai sarana untuk saling mengenal (ta’aruf).

“Islam mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik kepada sesama. Kita hidup berdampingan bukan untuk saling menjauh, tetapi untuk saling mengenal dan mengasihi,” ujar Ustadz Arifin di hadapan para jamaah.

Filosofi “Mesin Cuci” dalam Ibadah Ramadan

​Salah satu poin menarik dalam khutbah tersebut adalah penggunaan analogi sederhana namun kuat mengenai hakikat ibadah di bulan suci. Ustadz Arifin mengajak jamaah untuk menjalankan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh) selama Ramadan.

​Ia mengibaratkan proses ibadah Ramadan seperti kerja sebuah mesin cuci. Pakaian hanya akan menjadi bersih sempurna jika seluruh sistem dalam mesin tersebut—mulai dari putaran, air, hingga deterjen—bekerja secara harmonis dan terintegrasi.

  • Sistem Ramadan: Gabungan antara puasa, shalat tarawih, infak, sedekah, dan penjagaan akhlak.
  • Output: Jika dijalankan sebagai satu kesatuan sistem yang utuh, Ramadan akan menjadi proses penyucian diri yang efektif.

​”Semua ibadah itu adalah satu rangkaian yang saling terhubung. Jika dijalankan dengan baik, maka Ramadan benar-benar akan menjadi momentum pembersihan jiwa,” jelasnya.

Ramadan sebagai Penguat Solidaritas Sosial

​Menutup khutbahnya, Ustadz Arifin mengajak seluruh jamaah untuk tidak hanya fokus pada kesalehan ritual pribadi, tetapi juga meningkatkan kesalehan sosial. Ramadan diharapkan mampu memperkuat solidaritas, memperbanyak amal kebajikan, dan menjaga etika dalam kehidupan bermasyarakat.

​Dengan pesan ini, diharapkan umat Islam dapat tampil sebagai pribadi yang bertakwa sekaligus menjadi rahmatan lil ‘alamin—pembawa rahmat dan manfaat nyata bagi lingkungan di sekitarnya.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article