
Surabaya, wartapoint – SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Pucang Surabaya kembali mengukuhkan posisinya sebagai lembaga pendidikan terdepan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi menunjuk sekolah ini sebagai sekolah model untuk implementasi kurikulum pembelajaran mendalam (deep learning), coding, dan Kecerdasan Artifisial (AI).
Penunjukan prestisius ini menjadikan SD Mudipat sebagai satu dari lima sekolah dasar di Surabaya yang dipercaya mengemban amanah penerapan kurikulum teknologi tersebut pada tahun ini.
Tiga Pilar Pembelajaran Mendalam
Kepala SD Mudipat Surabaya, Edy Susanto, menyambut positif kepercayaan ini. Ia menjelaskan bahwa kurikulum deep learning yang diusung pemerintah bukan sekadar tren, melainkan sebuah metode yang bertumpu pada tiga prinsip utama:
- Bermakna: Materi pelajaran harus relevan dengan kehidupan siswa.
- Menggembirakan: Proses belajar dilakukan dengan antusiasme tinggi.
- Berkesadaran: Siswa memahami sepenuhnya tujuan dari ilmu yang mereka pelajari.
”Pembelajaran ini bukan sekadar bersenang-senang. Apa yang didapatkan siswa di sekolah harus bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari secara kontekstual,” tegasnya kepada awak media wartapoint.id, Sabtu (14/3).
Matang dengan Persiapan Coding dan AI
Menariknya, materi coding sebenarnya bukan barang baru bagi sekolah yang berlokasi di Pucang ini. Edy mengungkapkan bahwa SD Mudipat telah lama mengintegrasikan teknologi ke dalam kurikulum mereka.
“Secara persiapan, kami sudah siap sejak tahun lalu. Coding sudah kami terapkan melalui ekstrakurikuler dan masuk ke pembelajaran akademik kelas 5 sejak tahun pertama,” jelasnya.
Selain kesiapan infrastruktur, SD Mudipat juga proaktif dalam peningkatan SDM. Guru-guru telah mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) baik dari Kemendikdasmen maupun dari Majelis Dikdasmen PDM dan PWM. Bahkan, sekolah sempat menghadirkan narasumber khusus untuk membedah konsep deep learning secara mendalam.
Mencetak Lulusan Berkarakter
Meski fokus pada teknologi tinggi seperti AI dan coding, SD Mudipat tetap menempatkan pembentukan karakter sebagai prioritas utama. Output dari kurikulum ini diharapkan mampu melahirkan siswa yang memenuhi delapan profil lulusan, meliputi:
- Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Kemandirian.
- Semangat gotong royong, dan lima poin karakter unggulan lainnya.
”Sebenarnya kami sudah melaksanakan pembelajaran mendalam ini sejak lama, namun sekarang diformalkan oleh pemerintah dengan gambaran yang lebih luas. Sebagai sekolah model, kami berkomitmen mengimplementasikannya dengan sepenuh hati,” pungkasnya. (yupan)





