Saturday, April 18, 2026

Menjaga Nalar Sehat: Menyikapi Polemik Penetapan Idul Fitri 1447 H dengan Kedewasaan

Must read

Surabaya, wartapoint – Menjelang penetapan Idul Fitri 1447 H, ruang publik kembali dihangatkan oleh perdebatan mengenai metode penentuan 1 Syawal. Sayangnya, dinamika tahun ini dinilai mulai bergeser dari ranah ilmiah menuju narasi provokatif yang berpotensi memecah belah umat.

​Menanggapi fenomena tersebut, Anang Dony Irawan, Wakil Ketua PCM Sambikerep sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), mengajak umat untuk tetap menjaga “kewarasan” dan nalar sehat di tengah gempuran informasi yang tidak berdasar.

Melawan Narasi Prasangka

​Anang menyoroti beredarnya berbagai flyer di media sosial yang memunculkan istilah tendensius seperti “perukyat tidak resmi” atau meragukan independensi pengamat hilal tertentu. Menurutnya, tuduhan semacam itu sangat berbahaya karena membangun kecurigaan tanpa dasar ilmiah.

​”Tuduhan itu tidak hanya mengada-ada, tetapi juga merendahkan kerja ilmiah yang telah dibangun dengan susah payah. Ini adalah lompatan logika yang jauh dari rasionalitas,” ujar Anang kepada awak media wartapoint.id via WhatsApp, Kamis (19/3/2026).

​Ia menegaskan bahwa perbedaan metode antara rukyat (pemantauan fisik) dan hisab hakiki wujudul hilal yang konsisten digunakan Muhammadiyah adalah bagian dari kekayaan ijtihad dalam Islam, bukan alat untuk saling menjatuhkan.

KHGT: Terobosan Berkemajuan, Bukan Penyimpangan

​Anang juga mengaitkan dinamika ini dengan kehadiran Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Ia memandang KHGT sebagai representasi semangat pembaruan Muhammadiyah untuk menjawab tantangan zaman melalui sistem waktu yang terintegrasi secara global.

​Sejarah mencatat bahwa gagasan besar Muhammadiyah seringkali dianggap “aneh” pada awalnya—seperti penerjemahan Al-Qur’an ke bahasa lokal atau pendirian rumah sakit modern—namun kini menjadi arus utama.

​”KHGT adalah bukti keberanian berijtihad. Dalam tradisi Islam, perbedaan ijtihad adalah kewajaran. Yang utama bukan sekadar hasil akhir, melainkan kesungguhan dalam berupaya,” tambahnya.

Ukhuwah di Atas Perbedaan

​Realitas di lapangan menunjukkan bahwa potensi kesamaan hari raya sangat mungkin terjadi, baik bagi warga Muhammadiyah maupun kalangan kultural lainnya. Hal ini membuktikan bahwa kesamaan maupun perbedaan adalah hasil ijtihad yang jujur, bukan sebuah rekayasa atau skenario pihak tertentu.

​Di akhir ulasannya, Anang menekankan tiga poin utama bagi umat dalam menghadapi dinamika ini:

  1. Kejernihan Berpikir: Tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang menyerang integritas lembaga.
  2. Keluasan Hati: Menerima perbedaan metode sebagai keniscayaan ilmiah.
  3. Komitmen Persatuan: Menjadikan Idul Fitri sebagai momentum memperkuat ukhuwah, bukan konflik yang tidak produktif.

​”Menjaga kewarasan adalah langkah awal menuju umat yang berkemajuan—umat yang tidak hanya kuat dalam keyakinan, tetapi juga matang dalam cara berpikir dan bersikap,” pungkasnya.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article