Menjadi Hamba Rabbani, Bukan Ramadhani: Pesan Mendalam Idul Fitri 1447 H di Taman Ir. Soekarno Purwodadi

Must read

- Advertisement -

Purwodadi, wartapoint – Ribuan umat Muslim memadati Lapangan Taman Ir. Soekarno, Purwodadi, untuk melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 H, Jumat (20/3/2026). Di bawah langit Syawal yang cerah, Ustadz Ridwan Arfiyanto, Lc. hadir sebagai khatib dengan membawa pesan reflektif bertajuk “Menjadi Hamba Rabbani di Antara Dua Perasaan”.

​Dalam khutbahnya, Ustadz Ridwan mengajak jamaah untuk merenungkan hakikat waktu yang berlalu secepat awan. Berakhirnya Ramadhan, menurutnya, bukan sekadar pergantian bulan, melainkan pengingat akan fana-nya dunia dan semakin dekatnya ajal manusia.

1. Kegelisahan Orang Beriman: Diterimakah Amalku?

​Ustadz Ridwan menekankan bahwa kesedihan seorang mukmin pasca-Ramadhan bukan hanya karena kehilangan suasana bulan suci, melainkan adanya kekhawatiran spiritual yang mendalam.

​”Seorang mukmin sejati lebih khawatir jika amal ibadahnya selama sebulan penuh tidak diterima oleh Allah SWT,” tuturnya.

​Ia juga mengingatkan kutipan keras dari ulama salaf yang menyebutkan bahwa seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal dan menyembah Allah di bulan Ramadhan saja.

2. Istiqamah: Pensiun Beribadah Hanyalah Saat Ajal

​Salah satu poin utama dalam khutbah ini adalah ajakan untuk menjadi Hamba Rabbani, yaitu hamba yang menyembah Tuhan pemilik bulan Ramadhan di setiap waktu, bukan menjadi Hamba Ramadhani yang ibadahnya bersifat musiman.

  • Muslim Berkemajuan: Seorang Muslim harus dinamis dan menjaga konsistensi iman agar tidak surut saat Syawal tiba.
  • Prinsip Kontinuitas: Merujuk pada hadits Nabi SAW, beliau menekankan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus (istiqamah), meskipun dalam jumlah sedikit, seperti tadarus satu halaman sehari.

3. Keseimbangan Emosional: Antara Takut dan Harap

​Menutup khutbahnya, Ust. Ridwan menjelaskan cara mengelola dua perasaan penting dalam Islam: Al-Khauf (takut) dan Ar-Raja’ (harap).

PerasaanMakna dan Tujuan
Al-Khauf (Sedih/Takut)Sedih berpisah dengan Ramadhan agar manusia terhindar dari sifat sombong dan tidak merasa paling suci.
Ar-Raja’ (Bahagia/Harap)Bahagia menyambut Idul Fitri sebagai bentuk syukur (Tahadduts bin Ni’mah) atas kekuatan beribadah yang diberikan Allah.

Keseimbangan ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-Hadid: 23, agar manusia tidak berputus asa saat bersedih dan tidak melampaui batas saat bergembira.

Pesan Penutup

Ustadz Ridwan Arfiyanto, Lc. berpesan agar kebahagiaan Idul Fitri dijadikan bahan bakar untuk menebar manfaat selama sebelas bulan ke depan. “Biarlah tadarus Al-Qur’anmu tetap basah di lisan walau hanya satu halaman sehari. Karena istiqamah itulah karunia (karamah) yang paling agung di sisi Allah SWT,” pungkasnya. (H. Sutikno, S.Sos, M.H./yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article