Saturday, April 18, 2026

Mudik: Bukan Sekadar Budaya, Melainkan Upaya Menghidupkan Sunnah

Must read

Surabaya, wartapoint – Istilah “mudik” telah lama melekat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia. Menurut KBBI, mudik diidentikkan dengan fenomena pulang kampung yang dilakukan oleh para perantau. Namun, di balik kemacetan dan keriuhan terminal serta pelabuhan menjelang Idulfitri, tersimpan sebuah esensi spiritual yang jauh lebih dalam dari sekadar tradisi tahunan.

​Bagi banyak umat Muslim di Indonesia, momen Idulfitri tanpa mudik terasa hampa. Kalimat “Kalau gak mudik, seperti ada yang hilang” menjadi cermin betapa kuatnya ikatan batin dengan tanah kelahiran. Namun, jika dibedah lebih dalam, aktivitas “anjang-anjangsana” ini sebenarnya adalah pengejawantahan dari nilai luhur Islam, yaitu Silaturahim.

​Menghubungkan Nasab, Mempererat Ikatan

​Mudik bukan hanya perjalanan fisik melintasi provinsi, melainkan perjalanan hati untuk berkumpul bersama orang tua, saudara kandung, hingga kerabat jauh dalam satu garis nasab. Hal ini selaras dengan ajaran Rasulullah SAW mengenai pentingnya menjaga hubungan kekerabatan.

​Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dikisahkan bahwa ketika turun ayat:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammmad) yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214)

​Rasulullah SAW segera mengumpulkan seluruh keluarga besarnya, mulai dari Bani Ka’ab bin Luaiy hingga putri beliau, Fatimah. Beliau menyerukan keselamatan dari api neraka kepada mereka semua dan menegaskan sebuah komitmen:

“…selain kalian adalah kerabatku, maka aku akan menyambung tali kerabat tersebut.”

​Pesan Mendalam di Balik Silaturahim

​Melalui kacamata Ibnu Hajar, hadits tersebut memberikan dua pesan krusial bagi umat Islam dalam memandang hubungan keluarga:

  1. Peran Edukasi Keluarga: Keluarga memiliki tanggung jawab besar untuk saling menasihati dan mengingatkan dalam kebaikan.
  2. Urgensi Silaturahim: Menjaga hubungan kekeluargaan adalah hal krusial dalam struktur sosial Islam guna menjaga keharmonisan umat.

​Rasulullah SAW menunjukkan contoh nyata dengan mengumpulkan kerabat dari yang terjauh hingga yang terdekat. Inilah yang kemudian terefleksi dalam budaya mudik di Indonesia—sebuah upaya kolektif untuk menyambung kembali tali yang mungkin sempat mengendur karena jarak dan waktu.

​Kesimpulan: Menghidupkan Sunnah dalam Tradisi

​Fenomena mudik pada akhirnya membuktikan bahwa budaya tidak harus bertabrakan dengan agama. Sebaliknya, mudik menjadi jembatan bagi kaum Muslimin untuk menjalankan perintah Allah secara masif.

​Dengan demikian, mudik bukan sekadar rutinitas mudik-pulang kampung biasa. Ia adalah sebuah ijtihad budaya untuk menghidupkan sunnah, memperkuat nasab, dan memastikan bahwa kasih sayang antar kerabat tetap terjaga hingga generasi mendatang. (Ahmad Mujaddid RA, S.H., M.Pd.)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article