Surabaya, wartapoint – Di tengah pergeseran geopolitik dunia yang kian dinamis, Indonesia kini menghadapi tantangan keamanan yang tidak lagi bersifat konvensional. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia berada di persimpangan antara peluang strategis dan kerentanan multidimensional yang melintasi batas-batas negara.
Andi Muh Ikram Alqivari, dalam analisis terbarunya, menyoroti bahwa konsep global security bagi Indonesia telah bertransformasi. Keamanan nasional kini tidak lagi terbatas pada urusan militer, melainkan mencakup spektrum yang lebih luas: politik, ekonomi, sosial, hingga lingkungan.
Spektrum Ancaman: Dari Maritim hingga Perubahan Iklim
Laporan tersebut menggarisbawahi beberapa titik krusial yang menjadi tantangan utama Indonesia:
- Kedaulatan Maritim: Meski berada di jalur perdagangan dunia, keterbatasan kapasitas pengawasan dan ego sektoral antarlembaga (TNI AL, Bakamla, Polair) masih menjadi celah bagi praktik perompakan dan penyelundupan.
- Terorisme Adaptif: Pemanfaatan teknologi oleh jaringan global menuntut Indonesia waspada dalam menangkal radikalisme tanpa mencederai nilai demokrasi dan HAM.
- Krisis Iklim sebagai Ancaman Keamanan: Degradasi lingkungan dan kenaikan permukaan laut bukan sekadar isu ekologi, melainkan pemicu potensial konflik sosial dan ketidakstabilan politik.
Pergeseran Paradigma: Menuju Human Security
Untuk merespons kompleksitas tersebut, diperlukan langkah-langkah strategis yang integratif. Salah satu poin fundamental yang ditawarkan adalah pergeseran paradigma dari keamanan militeristik menuju Keamanan Manusia (Human Security).
”Keamanan harus dipahami secara luas, tidak hanya sebagai perlindungan negara tetapi juga perlindungan manusia melalui pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan pemerataan pembangunan,” tulis Andi Muh Ikram.
6 Pilar Strategi Solutif
Dalam analisisnya, dirumuskan enam langkah kunci bagi pemerintah Indonesia:
- Modernisasi Teknologi Maritim: Penguatan radar dan satelit terpadu.
- Pendekatan Kesejahteraan: Mengurangi kerentanan sosial sebagai akar konflik.
- Deradikalisasi Holistik: Melibatkan komunitas dan tokoh agama, bukan sekadar tindakan represif.
- Mitigasi Iklim: Memasukkan isu lingkungan dalam dokumen strategi keamanan nasional.
- Reformasi Tata Kelola: Meningkatkan transparansi dan sinergi antarlembaga keamanan.
- Diplomasi Strategis: Memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik.
Hambatan Implementasi
Namun, jalan menuju stabilitas tersebut tidaklah mulus. Tantangan nyata di lapangan masih berkutat pada keterbatasan anggaran dan lemahnya koordinasi antarinstansi. Selain itu, konsistensi kebijakan seringkali terbentur oleh dinamika politik domestik.
Sebagai kesimpulan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi aktor kunci perdamaian dunia. Namun, hal ini hanya bisa dicapai jika Indonesia mampu melakukan transformasi paradigma keamanan yang lebih komprehensif, transparan, dan adaptif terhadap ancaman modern yang melintasi batas kedaulatan.




