
Surabaya, wartapoint – Ketua PCPM Pakal sekaligus Pembina IPM SMP Muhammadiyah 15 Boarding School Surabaya, Ustadz Didik Hermawan, M.Pd, Gr, melontarkan kritik tajam terhadap fenomena “Jabariyah Modern” yang kian marak di ruang publik. Menurutnya, paham teologi klasik yang menafikan kehendak bebas manusia kini telah bertransformasi menjadi strategi politik licik untuk mematikan nalar kritis masyarakat.
Dalam ulasannya, Didik menekankan bahwa agama sering kali disalahgunakan sebagai instrumen untuk mencuci tangan para pemangku kebijakan dari tanggung jawab sosial dan kegagalan struktural.
Distorsi Makna Sabar dan Takdir
Jabariyah modern, menurut Didik, bekerja dengan cara mendistorsi makna sabar dan tawakal. Jika seharusnya sabar menjadi kekuatan batin untuk bertahan di jalan kebenaran, dalam praktiknya kini justru dipelintir menjadi kepasrahan buta terhadap penindasan.
“Eksploitasi narasi ‘sudah takdir’ sering kali menjadi pelarian bagi pemangku kebijakan saat menghadapi kegagalan struktural. Ketika kemiskinan merajalela akibat korupsi, rakyat justru diminta bersabar atas ujian Tuhan. Ini adalah upaya sistematis memadamkan kemarahan sosial,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bagaimana kerusakan lingkungan atau kegagalan infrastruktur akibat kelalaian manusia sering kali langsung dilabeli sebagai “musibah takdir”. Pelabelan ini dianggap sebagai cara instan untuk menghentikan investigasi dan menghindari akuntabilitas hukum.
Industri Spiritual dan Mentalitas Fatalistik
Lebih jauh, Didik mencermati adanya “industri spiritual” yang mendanai narasi kepasrahan melalui mimbar-mimbar yang telah “dijinakkan”. Tujuannya jelas: agar masyarakat sibuk meratapi dosa pribadi tanpa sempat mengkritisi “dosa-dosa” kebijakan publik.
Dampak dari fenomena ini adalah terciptanya masyarakat yang fatalistik.
- Masyarakat Apatis: Menunggu mukjizat daripada menuntut perbaikan sistem ekonomi dan hukum.
- Perisai Penguasa: Takdir dijadikan tameng bagi mereka yang bersalah agar tidak perlu ada perbaikan sistem atau pemecatan pejabat yang tidak kompeten.
- Ketimpangan Lebar: Elit terus menumpuk kekayaan, sementara rakyat kecil diminta “mengencangkan ikat pinggang” atas nama iman.
Menggugat Manipulasi, Mengembalikan Ruh Pembebasan
Didik menegaskan bahwa menggugat Jabariyah modern bukan berarti menggugat ketetapan Tuhan, melainkan melawan manipulasi atas nama Tuhan. Ia mengajak masyarakat untuk berani membedakan antara wilayah ketetapan Ilahi dan wilayah tanggung jawab manusia.
“Tawakal yang sejati baru bisa ditegakkan setelah keadilan diperjuangkan. Jika ketidakadilan terjadi karena kebijakan yang salah, solusinya adalah perlawanan nalar dan perbaikan sistem, bukan sekadar pelapisan iman,” tambahnya.
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melepaskan diri dari belenggu “takdir palsu”. Agama harus dikembalikan pada fungsinya sebagai ruh pembebasan, bukan sekadar menjadi pelumas bagi mesin tirani yang rakus dan licik. Dengan akal dan keberanian, masyarakat diharapkan mampu menuntut keadilan sebagai bagian dari ibadah yang sesungguhnya.





