Surabaya, wartapoint – Semangat perjuangan R.A. Kartini tidak selalu harus dirayakan dengan perlombaan busana adat. Di Ketintang Baru gang 17 Surabaya, para ibu menunjukkan kemandirian dan kecerdasannya melalui aksi nyata di dapur. Bertempat di lingkungan RT 06 RW 03, Ibu-ibu PKK menggelar aksi kreatif bertajuk “Mengolah Nasi Sisa Menjadi Hidangan Ringan Istimewa” pada Minggu (26/4).
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa sosok Kartini masa kini adalah mereka yang mampu menerapkan smart housekeeping—pengelolaan rumah tangga yang cerdas, kreatif, sekaligus solutif.
Mengubah Sisa Menjadi Rasa
Fokus utama dalam kegiatan ini adalah menantang kreativitas warga untuk mengolah bahan yang sering dianggap tidak bernilai, yakni nasi sisa. Di tangan kreatif para ibu PKK, bahan tersebut disulap menjadi berbagai kudapan menggugah selera, salah satunya adalah kerupuk ketumbar yang renyah dan gurih.
Ketua PKK RT 06, Lilik Chalifah, S.Sos., M.Pd., mengungkapkan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk mematahkan stigma lama tentang peran ibu rumah tangga.
”Kartini masa kini harus kreatif. Kami ingin menunjukkan bahwa ibu-ibu di Ketintang Baru tidak hanya jago dandan, tapi juga cerdas mengelola bahan pangan di rumah,” ujar Lilik dengan penuh semangat.
Misi Lingkungan dan Ekonomi Keluarga
Lebih dari sekadar memasak, gerakan ini membawa misi besar terkait keberlanjutan lingkungan dan ketahanan ekonomi. Mengolah kembali nasi sisa merupakan langkah nyata dalam mendukung gaya hidup zero waste (nol sampah makanan).
Menurut Lilik, tindakan ini bukan didasari oleh kekurangan finansial, melainkan bentuk kesadaran akan efisiensi.
“Mengolah nasi sisa bukan berarti kekurangan, tapi bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan dan efisiensi ekonomi keluarga,” tegasnya.
Lahirnya Kartini Modern: Cerdas & Anti-Mubazir
Melalui kegiatan ini, PKK RT 06 berharap dapat melahirkan sosok “Kartini Modern” yang memiliki karakteristik:
- Cerdas: Mampu mencari solusi kreatif atas masalah harian.
- Anti-Mubazir: Memiliki kesadaran tinggi untuk tidak membuang sumber daya secara sia-sia.
- Mandiri: Berkontribusi pada ekonomi keluarga melalui penghematan dan inovasi.
Harapannya, semangat “Anti-Mubazir” ini tidak hanya berhenti di momen Hari Kartini saja, tetapi menjadi budaya baru yang terus tumbuh di tengah masyarakat Ketintang Baru dan sekitarnya. (yupan)





