
Surabaya, wartapoint – Di tengah dinamika rantai pasok global yang kian kompleks, sinkronisasi antara operator terminal dan perusahaan pelayaran (shipping line) menjadi kunci utama efisiensi logistik. Menyadari hal tersebut, PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk “Praktisi Mengajar 2026”.
Program yang mengusung tema “Understanding Supply Chain Logistics From The Shipping Line Perspective” ini dilaksanakan di Gedung Customer Service TPS, Surabaya, Rabu (13/5/2026). Langkah ini menjadi upaya strategis TPS untuk memperpendek jarak antara teori akademis dengan realitas operasional di lapangan.
Sudut Pandang Pelaku Industri
Hadir sebagai narasumber utama, Gunawan, S.Pi., S.H., M.M., yang menjabat sebagai Branch Manager perusahaan pelayaran global CMA CGM Surabaya. Dalam paparannya, Gunawan membedah bagaimana shipping line memandang kinerja sebuah terminal bukan sekadar tempat bongkar muat, melainkan variabel penentu reliabilitas jadwal kapal.
”Dinamika perdagangan global menuntut efisiensi tinggi. Strategi pengelolaan logistik terintegrasi dan ketepatan waktu di terminal adalah faktor krusial yang menentukan daya saing sebuah rute pelayaran,” ujar Gunawan di hadapan puluhan peserta.
Ia menekankan bahwa terminal petikemas seperti TPS memegang peran signifikan dalam ekosistem supply chain. Keandalan layanan terminal sering kali menjadi pertimbangan utama bagi raksasa pelayaran internasional dalam menentukan hub logistik mereka.
Pengembangan SDM Internal
Kegiatan ini diikuti oleh puluhan pemagang internal TPS yang berasal dari berbagai lintas departemen, mulai dari:
- Operasi dan Komersial
- Teknologi Informasi
- Keuangan dan Manajemen Risiko
- HSSE (Health, Safety, Security, and Environment)
- SDM dan Umum
Melalui sesi ini, para peserta mendapatkan wawasan aplikatif mengenai bagaimana efisiensi biaya logistik dan konektivitas global dibangun melalui kolaborasi yang erat antara penyedia jasa pelabuhan dan pemilik kapal.
Komitmen Pembelajaran Berkelanjutan
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong budaya pembelajaran berkelanjutan (continuous learning).
“Melalui program ini, TPS berharap dapat memperkaya wawasan pemagang dengan insight langsung dari pelaku industri. Hal ini penting agar mereka mampu meningkatkan kapabilitas dan daya saing dalam menghadapi tantangan logistik global yang terus berubah,” kata Erika.
Erika menambahkan, program “Praktisi Mengajar” ini tidak akan berhenti di sini. Ke depan, TPS berencana menghadirkan narasumber dari berbagai sektor strategis lainnya guna menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan adaptif di sektor kepelabuhanan.
Urgensi Logistik Nasional
Di tengah upaya pemerintah meningkatkan performa logistik nasional, langkah yang diambil TPS ini menjadi relevan. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan shipping line, terminal dapat melakukan adaptasi operasional yang lebih presisi.
Sinkronisasi semacam inilah yang diharapkan mampu menurunkan biaya logistik nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam jalur perdagangan internasional. Sesi berbagi pengalaman ini ditutup dengan diskusi interaktif yang menunjukkan antusiasme tinggi dari para talenta muda TPS dalam membedah masa depan industri maritim. (Armand)





