
Surabaya, wartapoint – Atmosfer khidmat dan tetesan air mata haru menyelimuti Auditorium SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Surabaya pada Sabtu (16/05/2026). Sekolah Adab Keshalihan (SD Muhammadiyah 2 Surabaya) sukses memberangkatkan delegasi terbaiknya dalam prosesi Wisuda Tahfidz Quran IV yang diselenggarakan oleh K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya.
Sejak langkah pertama memasuki area registrasi, para santri sudah disambut dengan penyematan selempang wisuda sebagai simbol kehormatan. Selempang ini menjadi identitas kebanggaan bagi para penjaga ayat Allah sebelum mereka memasuki ruang utama untuk dikukuhkan secara resmi.
Ibrah Perjuangan: Melampaui Kelumpuhan Otak
Momen paling menyentuh terjadi saat sambutan motivasi dari Ustaz Misbahul Munir, M.Pd. Selaku inisiator Metode Tajdied sekaligus Ketua Tim Metode Tajdied Wilayah Jawa Timur (Majelis Dikdasmen PWM Jatim), beliau membagikan kisah luar biasa tentang Ananda Fajar (11 tahun).
Melalui pemutaran video, Ustaz Misbahul Munir menceritakan bagaimana Fajar, seorang penderita cerebral palsy (kelumpuhan otak) yang baru bisa berbicara pada usia 3,5 tahun, mampu menghafalkan 30 juz Al-Quran hanya dalam waktu satu tahun kemudian, yakni di usia 4,5 tahun.
“Fajar adalah bukti nyata anak manusia yang menembus batas kewajaran. Di balik keterbatasan fisiknya, ada ibu yang hebat dan guru yang luar biasa. Jika anak dengan kelumpuhan otak saja bisa memindahkan 30 juz ke dalam hatinya secepat itu, maka tidak ada alasan bagi putra-putri kita untuk tidak mencintai Al-Quran,” tegas Ustadz Misbahul Munir yang seketika membuat auditorium hening dalam tangis haru.
Prosesi inti dimulai saat para santri dipanggil satu per satu menuju panggung kehormatan untuk menerima Syahadah (Ijazah Wisuda Tahfidz). Namun, pemberian syahadah ini dibersamai dengan tantangan “Uji Publik”. Di atas panggung, para santri diminta menyambung potongan ayat yang dibacakan oleh dewan penguji di hadapan ribuan pasang mata.
Delegasi Sekolah Adab Keshalihan menunjukkan ketenangan luar biasa. Lantunan ayat-ayat suci mengalir deras dan fasih dari lisan mereka, membuktikan bahwa hafalan mereka bukan sekadar hapal, melainkan melekat kuat (mutqin).
Faradiba Aqila Azzahra, Aqila Zahira Achmad, Khodijah Shafa Salsabila,
Syafirly Meuthia Arsy dan Syaqilla Humaira, murid kelas 5 yang tampil memukau saat tes hafalan, mengungkapkan perasaannya. “Tadi sempat merasa deg-degan saat dipanggil satu-satu ke panggung untuk sambung ayat. Tapi setelah mendengar kisah Kak Fajar dari Ustaz Misbahul tadi, saya jadi lebih semangat. Syahadah ini hadiah terindah utk bunda kami,” ujar Faradiba dan dibalas anggukan setuju oleh Aqila, Syaqilla, Muthia dan Khodijah dengan wajah berseri.
Kehadiran Delegasi
Meskipun secara total terdapat 16 santri Sekolah Adab Keshalihan yang dinyatakan lulus Munaqasyah, pelaksanaan wisuda kali ini dihadiri oleh delegasi inti yang berjumlah 11 orang (5 siswa dan 6 pendamping).
Adapun santri lainnya (mayoritas murid kelas 6) berhalangan hadir dikarenakan fokus menghadapi persiapan Ujian Akhir Sekolah serta terkendala jadwal di masa libur panjang. Meski demikian, semangat Qurani tetap menyatukan mereka semua.
Kepala Sekolah Adab Keshalihan, M. Agus Zaki Fanani menutup kegiatan dengan pesan mendalam.
“Kehadiran 11 orang delegasi kita hari ini telah mewakili izzah (kemuliaan) sekolah. Apa yang kita saksikan di panggung SMAMDA hari ini adalah kemenangan adab dan ikhtiar. Selamat kepada para wisudawan,” pungkasnya. (Indira)





