Kediri, wartapoint — Sabtu pagi yang ranum, 23 Mei 2026. Ketika sang surya baru saja menggeliat memeluk bumi Pare, Kediri, keriangan khas anak-anak memecah keheningan. Hari itu, gerbong masa depan dari English Study Club (ESC) SD Muhammadiyah 10 Surabaya—yang akrab disapa SD Mumtas—mendaratkan mimpinya di tanah legendaris: Kampung Inggris.
Bukan sekadar pelesir biasa, lawatan bertajuk “ESC GOES TO HEC1 AND MASJID JAMI’ IMAM BAIDHOWI PARE, KEDIRI” ini menjadi panggung tempat bahasa asing dijinakkan dengan tawa, dan ukhuwah dirajut lewat permainan.
Riuh Gembira di Ruang Kelas Baru
Lonceng petualangan dimulai lewat untaian sambutan yang hangat. Namun, keheningan formalitas itu tak bertahan lama. Riuh rendah mulai tercipta saat anak-anak mulai berhitung, “One, two, three!” Angka-angka itu bukan sekadar urutan, melainkan penentu takdir kelompok mereka hari itu. Sesuai nomor yang terucap, langkah-langkah kecil mereka berderap, mengekor guru pemandu menuju ruang-ruang belajar baru yang siap dieksplorasi.
Di dalam kelas, materi Introduction (perkenalan) tidak lagi kaku. Menggunakan nada akrab lagu Finger Family, mereka bernyanyi penuh jenaka:
“Where is Ambang, where is Ambang? Here I am, here I am, how do you do?”
Suasana kian renyah saat buah dan sayur favorit berkelindan menjadi identitas baru. Lewat permainan tebak teman, suara-suara cempreng bersahutan,
“My favorite fruit and veggies are…” yang langsung disambung dengan teriakan nama karib mereka.
Tak berhenti di situ, imajinasi mereka ditantang lebih dalam lewat materi Describing People dan I am Wearing.
Melalui game “Guess Who”, sang tutor dengan lihai merajut teka-teki visual—menyebutkan ciri fisik hingga warna baju—membuat anak-anak saling lirik, menerka-nerka siapakah gerangan sosok yang sedang digambarkan di antara mereka.
Dari Kecewa Menjadi Pelukan: Dinamika
Usai raga diisi dengan makan siang dan jiwa ditenangkan lewat sujud shalat Dzuhur, energi anak-anak Mumtas kembali disulut dalam sesi Fun Games.
Sebuah drama kecil nan menggelitik terjadi di awal sesi. Saat lagu membahana
“Hello, good afternoon everybody. Let’s clap your hand, and step your feet, and turn around. Now find your 2 friends!”.
Anak-anak berebut mencari pasangan dengan semangat membara. Namun, senyum mereka mendadak beku saat tutor berucap jahil, “That’s still a trial!” (Itu baru uji coba!).
“Yaaaaahhhhh…” koor kekecewaan massal pun pecah, memantul di dinding-dinding ruangan, melahirkan tawa bagi siapa saja yang mendengarnya.
Namun kecewa itu menguap secepat embun pagi. Ketika instruksi sesungguhnya berbunyi “Find your 3 friends!” dan meningkat menjadi “Find your 5 friends!”, histeria kegembiraan kembali pecah. Mereka saling buru, bahkan saling berpelukan erat agar tak kehilangan anggota.
Dari pelukan hangat itulah lahir kelompok-kelompok baru bermotokan nama-nama satwa dalam bahasa Inggris. Atmosfer kompetisi mendadak memanas namun tetap manis.
“How do you say pintu in English?” tanya tutor.
Seketika, anak-anak melompat, mengangkat tangan setinggi langit sembari meneriakkan nama kelompok mereka demi memperebutkan hadiah. Ketangkasan verbal kemudian diuji bersamaan dengan ketangkasan fisik dalam permainan kekompakan.
Di bawah komando, “Jump to the left!”, “Jump to the right!”, “Move forward!”, “Move backward!”, mereka melompat bersama, menyatukan ritme, mencari siapa yang paling seirama.
Menjemput Senja di Masjid Jami’ Imam Baidhowi
Petualangan di HEC1 usai, namun langkah kaki ESC SD Mumtas belum lelah. Tujuan berikutnya adalah Masjid Jami’ Imam Baidhowi. Di bawah naungan rumah ibadah yang megah dan teduh, bahasa Inggris tidak ditinggalkan; ia justru disandingkan dengan nilai-nilai spiritual.
Di sini, anak-anak meresapi untaian kosakata bertemakan Islam. Mereka belajar melafalkan ibadah harian mereka ke dalam bahasa dunia: memahami arti prayer (shalat),
prayer mat (sajadah), hingga fasting (puasa). Sebuah cara indah untuk menanamkan bahwa agama dan ilmu pengetahuan umum adalah dua sayap yang harus dikepakkan bersama.
Sebagai penutup hari yang sempurna, tawa anak-anak kembali pecah di area kolam renang masjid. Di dalam air yang jernih, mereka membasuh peluh, menyegarkan penat, dan mematri memori.
Sabtu itu, di Pare, anak-anak SD Muhammadiyah 10 Surabaya tidak hanya pulang membawa kosakata baru. Mereka pulang membawa tawa yang meluap, persahabatan yang kian erat, dan sebuah keyakinan bahwa menaklukkan dunia lewat bahasa bisa dilakukan dengan cara yang amat sangat membahagiakan.
Rachell Fattama Az Zahrah





