Oleh: H. Sutikno, S.Sos., M.H.
(Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama)
Dalam panggung sejarah para nabi, sosok Nabi Ibrahim AS menempati kedudukan yang sangat istimewa. Beliau tidak hanya menyandang gelar Abul Anbiya (Bapak Para Nabi), tetapi juga dianugerahi predikat luhur sebagai Khalilullah—Kekasih Allah SWT.
Ketokohan dan keteladanan Nabi Ibrahim AS bukanlah sebuah cerita masa lalu yang usang dimakan zaman. Jauh melampaui itu, setiap jengkal perjalanan hidupnya merupakan standar kebenaran, fondasi spiritual, sekaligus akar dari berbagai ritual ibadah umat Islam yang diabadikan oleh Allah SWT hingga hari kiamat.
Allah SWT secara tegas mengukuhkan kedudukan luhur ini dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 120:
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).“
Gelar “imam” atau pemimpin umat dalam ayat tersebut menegaskan bahwa garis hidup Nabi Ibrahim AS adalah sebuah blue print kesalehan yang wajib kita ikuti. Mengapa figur beliau begitu sentral hingga syariatnya abadi melintasi ruang dan waktu? Ada tiga tonggak keteladanan utama yang harus kita renungkan bersama.
1. Simbol Ketauhidan Murni dan Kepasrahan “Tanpa Tapi”
Di tengah peradaban masyarakat yang tenggelam dalam penyembahan berhala, Nabi Ibrahim AS tampil mendobrak zaman. Beliau menggunakan akal kritis dan kejernihan hatinya untuk mencari Tuhan, hingga akhirnya menemukan esensi ketauhidan yang murni.
Namun, ketauhidan bukan sekadar konsep di atas kertas; ia diuji melalui rangkaian badai ujian yang mahadahsyat sepanjang hidup beliau:
- Dihadapkan pada kobaran api oleh Raja Namrud karena keteguhan imannya.
- Perintah meninggalkan istri tercinta (Siti Hajar) dan bayinya (Nabi Ismail AS) di tengah gurun gersang yang tandus tanpa setetes pun air.
- Ujian puncak untuk menyembelih anak kandungnya sendiri, putra yang telah dinantikannya selama puluhan tahun.
Semua perintah berat itu dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS tanpa ada keraguan, kepasrahan total (taslim) inilah yang menjadi akar kata dari Islam itu sendiri. Maka wajar jika Allah SWT memerintahkan kita untuk mengikuti jejaknya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali Imran ayat 95:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Benarlah (segala firman) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.“
2. Akar Sejarah Manasik dan Ritual Ibadah Haji
Saat umat Islam menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, mereka sebenarnya sedang melakukan napak tilas sejarah dan merekonstruksi kembali perjuangan fisik keluarga Nabi Ibrahim AS.
Setiap rukun dan wajib haji sarat akan nilai historis yang mendalam:
- Baitullah (Ka’bah): Kiblat pemersatu umat Islam di seluruh dunia ini ditinggikan fondasinya oleh kolaborasi indah antara ayah dan anak, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS (QS. Al-Baqarah: 127).
- Sya’i: Berlari-lari kecil dari Safa ke Marwah adalah visualisasi dari kegigihan, harapan, dan optimisme seorang ibu—Siti Hajar—yang mencari air demi menyambung nyawa putranya, hingga Allah pancarkan mata air Zam-zam.
- Lempar Jumrah: Sebuah simbol perlawanan spiritual untuk mengenang momen ketika Nabi Ibrahim menghujani setan dengan batu saat makhluk tersebut mencoba menggoda dan membisikkan keraguan agar beliau membatalkan perintah Allah.
- Wukuf di Arafah: Puncak haji yang menggambarkan miniatur padang mahsyar, sebuah momentum ketundukan dan kesetaraan mutlak manusia di hadapan Sang Khalik.
3. Kurban Idul Adha: Mengikis Ego dan Cinta Buta pada Dunia
Ibadah kurban yang kita laksanakan setiap bulan Dzulhijjah adalah bentuk pelestarian langsung dari peristiwa ketika Nabi Ibrahim diuji untuk menyembelih Nabi Ismail AS. Allah SWT kemudian menggantinya dengan seekor domba yang besar.
Ujian ini tentu bukan karena Allah haus akan darah hambanya. Ini adalah edukasi tauhid tingkat tinggi untuk mengikis ego, keserakahan, dan kecintaan buta pada materi duniawi yang kerap disimbolkan melalui harta, takhta, maupun keturunan.
Esensi kurban ini secara gamblang digariskan dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang mencapai (keridhaan)-Nya adalah ketakwaan kamu.“
Kesimpulan: Menjadi Hamba yang Patuh
Pada akhirnya, mengikuti jalan hidup Nabi Ibrahim AS adalah panggilan bagi kita semua untuk menjadi hamba yang ideal. Beliau mengajarkan kepada kita sebuah potret kepasrahan yang utuh kepada Allah SWT—sebuah kepatuhan mutlak yang berjalan “tanpa tapi” dan “tanpa nanti”.
Semoga momentum refleksi terhadap jejak langkah Nabi Ibrahim AS ini mampu meningkatkan kualitas ketauhidan kita, menguatkan kepedulian sosial kita melalui kurban, dan membentuk karakter kita menjadi pribadi yang hanif (lurus) di tengah tantangan zaman yang kian kompleks. Amin.





