Surabaya, wartapoint — Kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah masih menjadi perhatian serius dunia pendidikan. Berangkat dari keresahan tersebut, sejumlah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menggelar aksi nyata melalui kegiatan Project Based Learning (PJBL) di SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya (SD Musix), Kamis (11/6/2026).
Kegiatan yang menyasar siswa kelas 5 dan 6 ini sengaja dirancang untuk membangun kesadaran dan memutus rantai perundungan sejak usia sekolah dasar.
Dibawah bimbingan Dr. Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah, S.Ud., M.Pd., tim mahasiswa yang diketuai oleh Dani Ario Kusuma ini menggandeng dosen pengampu Psikologi UM Surabaya, Agus Poerwanto, S.Psi., M.Kes., sebagai pemateri utama.
Mengenali Tiga Ciri Utama Bullying
Dalam paparannya, Agus Poerwanto membekali para siswa dengan kemampuan mendeteksi tindakan perundungan. Ia menjelaskan bahwa sebuah tindakan dapat dikategorikan sebagai bullying jika memenuhi tiga ciri utama:
- Sengaja: Tindakan negatif yang dilakukan dengan sadar untuk menyakiti orang lain.
- Berulang: Perilaku tersebut terjadi tidak hanya sekali, melainkan terus-menerus.
- Ketimpangan Kuasa: Membuat korban berada dalam posisi rentan dan sulit untuk membela diri.
Tak hanya itu, para siswa juga dikenalkan dengan berbagai jenis perundungan yang rawan terjadi di sekitar mereka, mulai dari perundungan fisik, sosial, hingga cyberbullying (perundungan siber) di ranah digital.
Antusiasme “Sahabat Gen Q” lewat Metode Gamifikasi
Guna memastikan materi tidak sekadar menjadi angin lalu, tim mahasiswa UM Surabaya yang beranggotakan Nurul Ramadhani, Layyina Utami, Sulthan Rake, dan Kemas Achmad Rafi, mengemas sesi evaluasi menggunakan metode gamifikasi atau permainan edukatif. Suasana aula sekolah pun mendadak riuh saat sesi tanya jawab interaktif dimulai.
“Siapa yang bisa menyebutkan jenis perundungan yang terjadi melalui aplikasi WhatsApp?” pancing Dani Ario Kusuma kepada para peserta.
Pertanyaan tersebut langsung disambut acungan jari berebut dari para siswa yang akrab disapa “Sahabat Gen Q” ini. Alvio, siswa kelas 4-A yang turut hadir, langsung menjawab dengan lantang.
“Itu termasuk perundungan cyberbullying, Kak!” jawab Alvio disambut tepuk tangan ruangan.
Dani juga menguji kesiapan mental siswa dengan melempar pertanyaan seputar langkah taktis yang harus dilakukan jika mereka menjadi korban atau saksi perundungan. Menariknya, hampir seluruh pertanyaan berhasil dijawab dengan tepat dan solutif oleh para siswa.
Membentuk Budaya Empati di Sekolah
Melihat respons dan pemahaman yang tinggi dari para siswa, tim mahasiswa Fakultas Psikologi UM Surabaya mengaku optimis. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi pemenuhan tugas akademik, tetapi mampu memberikan dampak jangka panjang.
Melalui sinergi Project Based Learning ini, diharapkan muncul riak positif dalam membangun budaya anti-bullying yang kokoh di lingkungan SD Musix. Dengan mengenali bahayanya sejak dini, para siswa diharapkan mampu menumbuhkan sikap empati, saling menghargai, dan bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. (Basirun/yupan)





