Oleh: H. Sutikno, S.Sos., M.H.
Tokoh Masyarakat/Tokoh Agama
Kalender Hijriah bukan sekadar alat penunjuk waktu. Ia adalah pengingat sejarah, pengikat ukhuwah, dan kompas spiritual bagi umat Islam. Tahun baru Islam tidak dimulai dengan pesta kembang api atau kemewahan duniawi, melainkan dimulai dengan refleksi (muhasabah) dan niat untuk berubah (hijrah).
Mengapa? Karena awal kalender Islam dikaitkan dengan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar pindah tempat, tapi perpindahan dari kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik, dari kekafiran menuju keimanan, dari perpecahan menuju persatuan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ [1]
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak hanya hidup untuk hari ini, tetapi juga selalu mengevaluasi masa lalu dan merencanakan masa depan.
A. Muhasabah Tahun 1447 H
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
- Apakah shalat kita semakin khusyuk
- Apakah Al-Qur’an semakin sering kita baca?
- Apakah hubungan dengan keluarga semakin harmonis
- Apakah harta yang kita peroleh semakin halal dan berkah?
- Apakah kita semakin peduli kepada fakir miskin dan sesama?
Jangan sampai usia bertambah, tetapi amal tidak bertambah. Jangan sampai tahun berganti, tetapi dosa tetap menumpuk.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)
B. Hijrah Maknawi – Resolusi Menuju 1448 H
Tahun baru 1448 H harus menjadi momentum Hijrah Kontemporer. Hijrah hari ini bukan lagi lari dari kejaran musuh fisik, tapi lari dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan mulia.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Imam Ahmad:
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ahmad)
Mari kita buat resolusi konkret untuk 1448:
- Hijrah Spiritual
- Tingkatkan kualitas ibadah. Jangan hanya mengejar kuantitas, tapi keikhlasan dan kekhusyukan.
- Hijrah Sosial
- Jadikan diri lebih bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani).
- Hijrah Digital : Menjaga Komunikasi, Menebar Manfaat
- Di era di mana informasi mengalir tanpa filter, resolusi kita harus menyentuh ranah digital. Hijrah digital berarti mengubah cara kita berinteraksi di dunia maya. Kita perlu bermigrasi dari mentalitas “konsumen konten” yang pasif menjadi produsen solusi. Gunakan platform digital untuk mengedukasi, menginspirasi, dan memperkuat koordinasi & silaturahmi yang produktif bukan untuk mengonsumsi hoaks atau menebar fitnah.Ingatlah sabda Nabi SAW: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim).
- Hijrah Mental : Resiliensi dan Contiuous Learning
- Tantangan ke depan membutuhkan kapasitas diri yang terus diperbarui. Resolusi terbaik adalah membangun growth mindset—mentalitas yang selalu lapar akan ilmu dan perbaikan diri. Sifat malas dan stagnan adalah hal yang harus kita hijrahi. Rasulullah SAW bahkan mengajarkan kita doa khusus untuk menghindari stagnasi ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” (HR. Bukhari).
C. Optimisme dan Doa – Mengharap Keberkahan 1448 H
Setelah muhasabah dan bertekad untuk hijrah, langkah terakhir adalah berdoa dan bersikap optimis. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di 1448 H, tetapi kita tahu siapa yang memegang kendali masa depan: Allah SWT.
Mari kita perbanyak istighfar, berdoa, dzikir & bersholawat
Dan juga doa umum untuk kebaikan dunia akhirat:
“Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban nar.”
Perubahan yang besar selalu dimulai dari langkah yang kecil dan konsisten. Ingatlah bahwa nasib lingkungan kita, keluarga kita, dan diri kita, ada di tangan kita sendiri melalui pertolongan Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Ar-Ra’d ayat 11:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Mari kita tutup lembaran 1447 H dengan istighfar atas segala khilaf, dan kita buka lembaran 1448 H dengan bismillah, optimisme, serta tekad untuk menjadi pribadi yang jauh lebih bermanfaat. (Red)





