Surabaya, wartapoint – Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah menjadi momentum penting bagi lembaga pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai karakter dan kepedulian sosial sejak dini. Hal ini ditunjukkan oleh MI Muhammadiyah (MIM) 25 Surabaya yang menggelar rangkaian kegiatan edukatif berbasis penguatan karakter pada Rabu (17/6/2026).
Mengusung tema “Semangat Hijrah, Menjadi Pribadi yang Lebih Baik, Berakhlak Mulia, dan Gemar Berbagi”, madrasah ini mengajak seluruh siswa kelas I hingga V untuk merefleksikan pergantian tahun Islam bukan sekadar sebagai perubahan kalender, melainkan sebagai sarana memperbaiki diri (muhasabah).
Menulis Harapan dan Menonton Tayangan Edukatif
Sejak pagi, suasana madrasah tampak semarak dengan kehadiran para siswa yang mengenakan busana muslim rapi. Rangkaian acara diawali dengan aktivitas kreatif, di mana setiap siswa diminta menuliskan harapan, komitmen ibadah, dan cita-cita mereka di selembar kertas yang dihias secara personal.
Langkah ini diambil untuk melatih kesadaran personal siswa agar memiliki target perubahan positif ke depan.
”Di tahun baru Hijriah ini aku ingin menjadi anak yang lebih baik. Aku ingin rajin salat lima waktu, rajin mengaji, dan selalu berdoa kepada Allah,” tulis Gavin, salah seorang siswa kelas 3B, dalam lembar harapannya.
Setelah menuangkan komitmen tertulis, para siswa diajak mengikuti sesi nonton bersama tayangan edukatif yang sarat pesan moral. Pendekatan audio-visual ini sengaja dipilih agar internalisasi nilai-nilai kebaikan dapat diserap anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan interaktif.
Merajut Kepedulian Lewat Praktik Filantropi Al-Ma’un
Tidak berhenti pada refleksi personal, para siswa juga diajak menyentuh aspek sosial melalui aksi berbagi nyata. Siswa kelas I dan II membawa aneka kue dari rumah, sementara siswa kelas III, IV, dan V membawa nasi.
Seluruh makanan yang terkumpul kemudian dikemas bersama secara gotong royong oleh para guru, tenaga kependidikan, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jatim (IPMJ). Gerakan ini merupakan bentuk implementasi dari teologi Al-Ma’un—sebuah spirit berbagi dan membela kaum duafa yang menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah.
Kepala MI Muhammadiyah 25 Surabaya, Ferry Rismawan, M.Pd.I., menjelaskan bahwa esensi hijrah harus dimaknai secara kontekstual oleh generasi muda saat ini.
”Kami ingin peserta didik memahami bahwa hijrah bukan hanya peristiwa sejarah yang dialami Rasulullah saw., tetapi juga semangat perubahan menuju pribadi yang lebih beriman, berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama,” tutur Ferry.
Pembiasaan Karakter Islami yang Berkelanjutan
Di sisi lain, Koordinator Bidang Ismuba (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab), Ustadzah Marlik, S.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari kurikulum pembiasaan karakter di madrasah, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan.
”Anak-anak diajak belajar bermuhasabah melalui tulisan harapan yang mereka buat. Mereka juga belajar nilai syukur dan kepedulian melalui kegiatan berbagi. Inilah makna hijrah yang ingin kami tanamkan, yaitu perubahan menuju kebaikan yang diwujudkan dalam sikap sehari-hari,” pungkas Marlik.
Melalui integrasi antara refleksi spiritual dan aksi filantropi ini, MIM 25 Surabaya berupaya meneguhkan posisinya sebagai lembaga pendidikan Islam berkemajuan yang seimbang dalam menumbuhkan kecerdasan intelektual sekaligus kesalehan sosial para siswanya. (Siti Islaha)





