Yogyakarta, wartapoint — Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti malam apresiasi keluarga besar MI Muhammadiyah (MIM) 25 Surabaya. Bertempat di Burza Hotel, Yogyakarta, Jumat (26/6/2026), kegiatan Family Gathering tahunan ini tidak sekadar menjadi ajang mempererat tali silaturahmi (ukhuwah), melainkan juga momentum penting untuk memberikan penghargaan kepada para pendidik yang dinilai inspiratif, dedikatif, dan inovatif.
Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi nyata madrasah terhadap para guru yang berhasil menghadirkan pembelajaran bermakna sekaligus membangun budaya berkarya di lingkungan sekolah.
”Diksi Candu”: Mengabadikan Satu Tahun Perjalanan Kelas 5B
Salah satu penghargaan yang mencuri perhatian malam itu adalah kategori Guru Produktif Berkarya, yang dianugerahkan kepada Ustadzah Razifa Syifqi Zulayfiyah, M.Pd. Penghargaan ini diberikan atas dedikasinya membangun ekosistem literasi yang lahir dari kecintaan mendalam terhadap para peserta didik.
Karya yang mengantarkannya meraih penghargaan tersebut adalah sebuah buku berjudul Diksi Candu. Buku ini merangkum lembar demi lembar kisah perjalanan satu tahun ajaran (2025/2026) Ustadzah Razifa bersama para siswa kelas 5B.
Dalam buku tersebut, ia mengabadikan berbagai momen ikonik:
- Dinamika proses belajar mengajar di kelas dan proyek sekolah.
- Keseruan permainan edukatif hingga momen kebersamaan saat berkemah.
- Ragam kisah jenaka, haru, dan reflektif yang mewarnai tumbuh kembang siswa.
Tidak hanya merekam memori, Diksi Candu juga menyisipkan nilai-nilai keislaman, pembiasaan adab, serta pelajaran hidup. Kehangatan buku ini kian terasa pada dua bab penutupnya, yakni Surat Cinta untuk Kalian serta Harapan & Doa, yang ditulis khusus sebagai refleksi kasih sayang seorang guru kepada muridnya.
Ditulis secara maraton selama sepuluh hari—sejak 14 hingga 24 Mei 2026—buku ini dicetak secara mandiri sebanyak 32 eksemplar. Istimewanya, seluruh buku tersebut dibagikan secara gratis kepada siswa kelas 5B sebagai hadiah kelulusan kelas.
”Bagus banget, seru banget, terharu. Air mataku sampai terkuras,” ungkap Naura Kamila, salah satu siswi kelas 5B.
Senada dengan Naura, tanggapan positif juga datang dari wali murid. “Seru sekali Us (Ustadzah). Terima kasih sudah mengabadikan semua di buku ini. Abyan baca sambil ketawa-ketawa. Sudah cocok jadi penulis,” tutur Mama Abyan.
Saat menerima penghargaan, Ustadzah Razifa menyampaikan rasa syukurnya dan berharap momentum ini bisa memantik semangat guru-guru lain. “Semoga bisa menjadi motivasi untuk diri saya sendiri… dan semoga semakin banyak karya hebat lahir dari guru-guru produktif MIM 25,” ujarnya.
Inovasi Kelas 1 dan Penguatan KKG
Selain bidang literasi, panggung apresiasi juga memberikan penghargaan Guru Inovatif kepada Ustadzah Lina Nailunajah, S.Pd.
Sebagai wali kelas 1, Ustadzah Lina dinilai sukses menghadirkan metode pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan adaptif terhadap karakteristik anak usia dini. Selain aktif di kelas, ia juga diapresiasi karena kontribusi aktifnya dalam mendukung program Kelompok Kerja Guru (KKG) serta semangat kolaborasinya dalam membantu rekan sejawat demi kemajuan madrasah.
Tanda Cinta untuk Sang Pemimpin
Malam penghargaan ditutup dengan momen sarat emosi ketika seluruh guru dan karyawan memberikan cinderamata atau “tanda cinta” kepada Kepala MI Muhammadiyah 25 Surabaya, Ustadz Ferry Rismawan, M.Pd.I.
Pemberian kenang-kenangan ini merupakan simbol terima kasih atas kepemimpinan, pengayoman, dan perhatian yang diberikan Ustadz Ferry selama mendampingi para tenaga pendidik dalam menjalankan amanah pendidikan. Riuh tepuk tangan dan doa bersama mengunci malam tersebut dalam atmosfer kekeluargaan yang kental.
Melalui penghargaan ini, MIM 25 Surabaya menegaskan komitmennya untuk terus memupuk budaya berkarya dan berinovasi. Karena dari guru yang tidak pernah berhenti belajar, akan lahir madrasah yang maju, berprestasi, dan membawa maslahat luas—menuju madrasah yang hebat, beradab, dan mendunia. (Siti Islaha)





