Surabaya , wartapoint – Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh siswa SD Muhammadiyah 18 Surabaya. Raizel Agia Rajendra, siswa kelas IV yang akrab disapa Rey, sukses melaju ke babak Grand Final Cak Ning Cilik Surabaya 2026. Setelah melewati rangkaian seleksi yang ketat dan kompetitif, Rey bersiap menampilkan performa terbaiknya pada puncak acara yang akan digelar pada 4 Juli 2026 di Graha Sawunggaling UNESA, Lidah Wetan.
Pencapaian Rey bukan sekadar kemenangan dalam ajang pencarian duta cilik. Lebih dari itu, perjalanannya menjadi bukti nyata bahwa keberanian, kerja keras, dan kecintaan terhadap budaya lokal dapat dipupuk sejak usia sekolah dasar.
Memikat Juri Lewat Sejarah dan Pencak Silat
Motivasi utama Rey mengikuti ajang ini didasari oleh keinginan mulia: menjaga dan mengenalkan budaya Kota Surabaya kepada generasi muda. Tekad kuat tersebut ia buktikan lewat performa memukau di setiap tahapan seleksi.
- Babak Penyisihan Pertama: Rey berhasil memikat juri melalui kemampuan story telling mengenai Jalan Tunjungan, salah satu kawasan bersejarah paling ikonik di Kota Pahlawan. Tak hanya itu, ia juga babat habis tes pengetahuan umum seputar sejarah dan dinamika Kota Surabaya.
- Babak Penyisihan Kedua: Rey menunjukkan sisi tangguhnya dengan menampilkan bakat pencak silat. Seni bela diri yang telah lama ditekuninya ini kian meyakinkan juri, apalagi Rey turut menunjukkan berbagai medali kejuaraan yang pernah diraihnya.
Menembus Batas Rasa Takut
Menjelang babak grand final, agenda Rey kian padat. Ia harus menjalani serangkaian persiapan intensif, mulai dari fitting busana kebesaran Cak dan Ning Cilik, sesi pemotretan promosi, latihan story telling berpasangan, koreografi, hingga pembekalan public speaking dan pengembangan kepribadian selama masa karantina tiga hari.
Kendati demikian, perjalanan ini tidak luput dari tantangan. Bagi Rey, berbicara di depan publik adalah hal baru yang sempat membuatnya gugup. Namun, berkat kegigihannya, rasa tidak percaya diri itu berhasil ia taklukkan.
”Alhamdulillah, aku seneng pol iso tekan Grand Final. Saiki aku dadi nduwe konco-konco anyar saka sak penjuru Surabaya, terus yo tambah ngerti budaya lan sejarah kutha iki. Sing paling tak rasakke, aku saiki luwih pede nek ngomong nang ngarepe wong akeh. Mugo-mugo pas grand final iso menehi sing paling apik lan oleh salah siji selempang. Nyuwun donga’e nggih,” ungkap Rey dengan logat khas Suroboyoan yang kental dan penuh semangat.
Dukungan Penuh dari Keluarga dan Sekolah
Rasa bangga dan syukur mendalam turut dirasakan oleh sang ibu, Rizky Gianina. Baginya, ajang ini bukan sekadar wadah berburu piala, melainkan proses pembentukan karakter yang sangat bernilai untuk masa depan putranya.
”Kami sangat bersyukur atas pencapaian Rey. Harapan kami, Rey tetap menjadi anak yang rendah hati, santun, tidak meninggalkan salat di tengah kesibukan tugasnya, serta tetap mengutamakan pendidikan,” tutur Rizky. Ia juga mengapresiasi SD Muhammadiyah 18 Surabaya yang dinilai sangat suportif dalam mempublikasikan dan mendukung bakat akademik maupun non-akademik siswa.
Senada dengan hal tersebut, Kepala SD Muhammadiyah 18 Surabaya, Ach. Barizi, M.Pd., menyampaikan apresiasi sekaligus doa terbaiknya untuk Rey.
”Selamat kepada ananda Raizel Agia Rajendra. Prestasi ini menjadi bukti bahwa siswa kami mampu berkembang secara akademik, berkarakter, sekaligus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap budaya daerah. Semoga Rey diberikan kemudahan, tampil percaya diri, tetap menjaga akhlak mulia, serta mampu mengharumkan nama keluarga, sekolah, dan Kota Surabaya,” ujarnya.
Kini, seluruh keluarga besar SD Muhammadiyah 18 Surabaya bersatu memberikan dukungan dan doa restu. Langkah Rey di panggung Cak Ning Cilik 2026 menjadi pengingat berharga: bahwa pendidikan terbaik tidak hanya lahir di dalam ruang kelas, melainkan juga dari keberanian untuk melangkah, berkarya, dan mencintai akar budaya sendiri. (Desy/yupan)





