Kajian Subuh di UM Gresik: Membedah Surat Al-Ikhlas untuk Penguatan Aqidah hingga Akhlak Mulia

Must read

- Advertisement -

Gresik, wartapoint – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Faqih Oesman Universitas Muhammadiyah (UM) Gresik seusai ibadah shalat subuh berjamaah. Sekitar 200 jemaah tampak antusias menggeser tempat duduk mereka demi mengikuti kajian rutin yang membedah buku “Jejak-jejak Berpijak”.

​Kajian spiritual yang menghadirkan penulis sekaligus tokoh pendidik, Najib Sulhan, sebagai pembicara utama ini mengupas tuntas keterkaitan erat antara penguatan aqidah, konsistensi ibadah, dan pembentukan akhlakul karimah di tengah kehidupan modern.

Belajar dari Cinta Sahabat Nabi pada Surat Al-Ikhlas

​Najib Sulhan mengawali ceramahnya dengan membagikan sebuah kisah inspiratif dari zaman Rasulullah SAW. Kisah tersebut menceritakan tentang seorang sahabat Nabi yang ditugaskan memimpin sebuah rombongan pasukan. Menariknya, setiap kali mengimami shalat, sahabat tersebut selalu menutup bacaan suratnya dengan Surat Al-Ikhlas.

​Kebiasaan unik ini kemudian dilaporkan kepada Rasulullah SAW, yang lantas meminta agar alasan di balik tindakan tersebut ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan.

​”Ternyata, sahabat tersebut menjawab bahwa di dalam Surat Al-Ikhlas terkandung sifat-sifat Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), dan ia sangat mencintainya. Ketika jawaban itu disampaikan kepada Rasulullah, beliau berpesan agar memberi kabar kepada sahabat tersebut bahwa Allah juga mencintainya,” kisah Najib di hadapan ratusan jemaah.

​Melalui analogi kisah tersebut, Najib menekankan bahwa meskipun Surat Al-Ikhlas tergolong pendek, kandungan kalimat tauhid di dalamnya sangat luar biasa. Jika dipahami dengan penghayatan penuh, surat ini mampu menjadi fondasi yang kokoh dalam menguatkan keyakinan seorang Muslim.

Tiga Pilar Kehidupan Muslim: Aqidah, Ibadah, dan Akhlak

​Dalam pemaparannya yang runut, Najib Sulhan memetakan tiga poin besar yang menjadi esensi dari pemahaman tauhid yang benar:

1. Penguatan Keyakinan (Aqidah)

Najib menjelaskan bahwa Surat Al-Ikhlas adalah simbol mutlak penguatan aqidah. Manusia diajarkan untuk hanya menyandarkan hidup kepada Allah Yang Maha Esa—Sang Pemilik, Penguasa, dan Pengatur alam semesta.

​”Allah adalah pemilik mutlak segalanya. Apapun yang dibutuhkan manusia, Allah pasti memberikan. Untuk itu, hanya Allah tempat berharap dan manusia dilarang keras menyekutukan-Nya. Bersandar pada kekuatan Allah akan melahirkan ketenangan hidup yang sejati,” tuturnya.

2. Menjaga Konsistensi Ibadah

Sebagai satu-satunya tempat bergantung, Allah SWT telah menjamin akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya. Najib kemudian mengutip Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 186 mengenai kedekatan Allah dengan manusia.

​Menurutnya, keyakinan akan kedekatan Allah inilah yang menjadi motor penggerak seseorang untuk menjaga ibadahnya. Ibadah bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan bentuk pengabdian yang tulus. Semakin kuat keimanan seseorang, maka akan semakin ringan dan tertib pula ia dalam menjaga kualitas ibadahnya.

3. Melahirkan Akhlak Mulia

Pada akhir cerahmahnya, Najib menarik benang merah bahwa aqidah dan ibadah pada akhirnya harus bermuara pada perilaku sehari-hari, yakni lahirnya akhlakul karimah.

​”Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat pasti akan menjaga tutur katanya dengan kalimat-kalimat yang baik (thoyyibah). Langkah kakinya pun selalu terjaga, sehingga tidak mudah menyakiti atau membuat luka hati orang-orang di sekitarnya,” jelas Najib.

​Ia memungkasi kajian dengan pesan mendalam bahwa seluruh aktivitas seorang Muslim di dunia, mulai dari berucap hingga bertindak, harus disadari sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Yang Maha Esa.

​Kajian subuh interaktif ini pun ditutup dengan sesi tanya jawab, meninggalkan kesan mendalam bagi ratusan jemaah yang hadir untuk memulai aktivitas mereka dengan semangat spiritual yang baru.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article