
Surabaya, wartapoint — Mengangkat isu kemanusiaan tingkat global, Program Bilingual Class SMP Muhammadiyah 15 (Spemlibels) Boarding School Surabaya menggelar agenda Guest Teacher pada Kamis (13/8/2026). Kegiatan yang diikuti oleh siswa kelas 7, 8, dan 9 ini menghadirkan dua pengajar internasional: Sawsan Fathi Anabtawi asal Palestina dan Nabia Arooj asal Pakistan.
Mengusung tema “The Impact of War”, agenda ini dirancang untuk mengajak para murid memahami dampak multidimensional konflik bersenjata terhadap kehidupan manusia—mulai dari krisis keluarga, masa depan anak-anak, disrupsi pendidikan, hingga kerusakan lingkungan.
Membangun Empati dan Wawasan Global
Kepala SMP Muhammadiyah 15 Boarding School Surabaya, Ustad Banjar, menekankan bahwa kehadiran guru tamu internasional ini bukan sekadar ajang pengasahan bahasa, melainkan wadah penanaman nilai kemanusiaan.
“Anak-anak, hari ini kita belajar langsung dari dua guru tamu asal Palestina dan Pakistan. Jangan hanya belajar bahasanya, tetapi dengarkan pengalaman dan pesan kemanusiaan yang mereka sampaikan. Jadikan ini bekal untuk menjadi generasi yang mencintai perdamaian dan peduli terhadap sesama,” tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Bilingual Class, Adi Cahyono, menambahkan bahwa penguasaan bahasa asing harus berjalan seiring dengan pemahaman geopolitik dan nilai toleransi.
“Bilingual Class adalah ruang bagi anak-anak untuk melihat dunia lebih luas. Bahasa Inggris digunakan sebagai alat komunikasi untuk memahami sejarah, budaya, dan isu kemanusiaan dari perspektif yang autentik,” jelas Adi.
Perspektif Kemanusiaan: Dari Sejarah Hingga Refleksi Perdamaian
Sesi materi terbagi menjadi dua bagian utama yang dipaparkan secara interaktif menggunakan bahasa Inggris:
- Sawsan Fathi Anabtawi (Palestina): Mengulas sejarah pendudukan Palestina secara komprehensif, mulai dari dinamika tahun 1947, pendudukan 1967, peristiwa Intifada, hingga kondisi terkini di Gaza. Sawsan menyoroti tingginya kerentanan yang dihadapi kelompok sipil, khususnya anak-anak dan perempuan. Di akhir paparan, ia menitipkan pesan harapan akan kemerdekaan dan kedaulatan tanah airnya: “Palestine will be free.”
- Nabia Arooj (Pakistan): Berfokus pada dampak psikologis dan sosial akibat perang. Nabia memaparkan bagaimana konflik merenggut hak dasar anak-anak—seperti akses sekolah, rasa aman, hingga pemenuhan kebutuhan gizi harian.
“War always costs far more than it ever gives back. Real strength shows in protecting people, not in seeking conflict,” tegas Nabia, mengingatkan bahwa kekuatan sejati terletak pada perlindungan sesama, bukan penciptaan konflik.
Diskusi Interaktif dan Komitmen Perdamaian
Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif. Para siswa memanfaatkan momen ini untuk berdiskusi langsung dengan kedua narasumber sekaligus melatih keberanian berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Melalui agenda ini, SMP Muhammadiyah 15 Surabaya berharap dapat mencetak generasi muda berwawasan global yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki empati mendalam terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sebagaimana pesan penutup yang digaungkan dalam acara tersebut: “Peace begins with each of us.” (Didik/yupan)





