
Surabaya, wartapoint — Jabatan boleh tinggi, tetapi seorang pemimpin tidak semestinya harus berada paling depan untuk dilayani. Justru semakin tinggi amanah yang dipikul, semakin besar tanggung jawabnya untuk mendengar, melindungi, dan memberi manfaat. Pesan inilah yang mengemuka dalam Kajian Matahari Terbit Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng Surabaya, Ahad (6/9/2026), di Masjid Jenderal Sudirman.
Mengangkat tema “Kepemimpinan Rasulullah: Meneladani Pemimpin yang Amanah, Cerdas, dan Melayani”, kajian menghadirkan KH. Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag., Dosen UMSURA sekaligus Dewan Penasihat MUI Surabaya periode 2024–2029.
Kajian dibuka dengan sambutan Ketua PCM Gubeng, Ust. Drs. Sulaiman, MA. Dalam kesempatan tersebut, turut disampaikan kiprah Majelis Tabligh Aisyiyah PD Surabaya melalui sambutan Ketua Majelis Tabligh Aisyiyah PD Surabaya, Ustazah Etty Sunanti, S.Th.I., M.Psi.
Ia memperkenalkan berbagai program pembinaan yang mencakup agama dan pendidikan, sosial, hingga hukum. Salah satu yang mendapat perhatian adalah Mualaf Learning Center. Dalam satu tahun, tercatat 32 mualaf mengikuti pembinaan. Masjid Jenderal Sudirman juga menjadi salah satu dari tiga masjid di Surabaya yang menjadi pusat pembinaan mualaf dan mendapat perhatian BAZNAS, bersama Masjid Rahmat dan Masjid Cheng Ho.
Memasuki materi utama, KH. Mahsun Jayadi mengajak jamaah melihat kembali kepemimpinan Rasulullah SAW dari perspektif yang lebih luas. Ia menyinggung buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History karya Michael H. Hart yang menempatkan Rasulullah SAW pada urutan pertama tokoh paling berpengaruh dalam sejarah.
Menurutnya, ada beberapa alasan yang membuat Rasulullah memiliki pengaruh luar biasa. Rasulullah bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga seorang negarawan yang mampu menata kehidupan masyarakat. Salah satunya melalui Piagam Madinah, yang menjadi contoh penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang beragam.
Dakwah Rasulullah juga berlangsung relatif singkat dengan perkembangan yang luas. Dalam rentang waktu yang tidak panjang, Islam berkembang ke berbagai wilayah hingga mencapai Andalusia.
Namun, inti kepemimpinan Rasulullah bukan sekadar kemampuan mengatur masyarakat. Rasulullah menjadi pemimpin karena mampu menjadi teladan.
Seorang pemimpin, menurut KH. Mahsun, harus memiliki pemahaman agama, kesehatan fisik, mental pemenang, jiwa yang tenang, rasa nasionalisme, serta kompetensi dan rekam keilmuan yang jelas. Tidak kalah penting, pemimpin harus mampu berkomunikasi dengan rakyat, mau mendengarkan, menjaga ucapan dan perbuatan, serta memiliki kewibawaan yang lahir dari keteladanan.
Empat sifat Rasulullah kemudian menjadi fondasi kepemimpinan ideal: siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah.
Siddiq berarti kejujuran sebagai dasar membangun kepercayaan. Amanah berarti mampu menjaga kepercayaan dan menggunakan kekuasaan untuk melindungi kepentingan umat. Tabligh berarti menyampaikan pesan, visi, dan kebijakan dengan komunikasi yang baik. Sementara fathonah berarti kecerdasan untuk membaca situasi, melihat masa depan, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Yang paling menarik, kajian kemudian membawa jamaah pada satu kata yang sering terlupakan dalam kepemimpinan: melayani.
“Wibawa datang dari manfaat, bukan dari jabatan,” menjadi pesan yang menguat dalam kajian. Pemimpin tidak seharusnya sibuk mencari penghormatan, apalagi meminta dilayani. Tugas utama pemimpin adalah memastikan kebutuhan orang yang dipimpinnya terpenuhi.
Kepemimpinan yang sehat bukan membuat rakyat takut kepada pemimpin, tetapi membuat rakyat percaya karena merasa didengar, dibantu, dan diperjuangkan.
Di tengah krisis keteladanan yang dirasakan umat, pesan tersebut menjadi relevan. Perbedaan pendapat tidak harus berujung perpecahan. Pemimpin dituntut mampu mengendalikan emosi, mengelola konflik, dan membangun lingkungan yang solid.
Dari Masjid Jenderal Sudirman, Kajian Matahari Terbit PCM Gubeng kembali meneguhkan wajah Muhammadiyah berkemajuan: mencerahkan umat melalui ilmu, menghadirkan keteladanan, dan membangun kepemimpinan yang melayani.
Sebab pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukan seberapa tinggi kursinya, melainkan seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik dan bermanfaat karena kehadirannya.
(Mochammad Farid Syahrizal)
#muhammadiyah #beritanasional #indonesia #jawatimur #surabaya





